Surat Untuk Utara

Utara,

Saat surat ini kau baca, mungkin kita sudah berpisah lama. Atau mungkin kita sudah tidak saling kenal. Suatu waktu kita berpapasan di antara riuh kendaraan, atau bising pejalan, selintas kalimat akan muncul di benakmu : “hei, sepertinya aku kenal dia” atau “hei, diakah si anu?”. Sementara sel-sel otakmu bekerja aktif untuk mengingatku, kotak kenanganmu enggan membuka engsel yang mungkin sudah berkarat bertahun-tahun, dan akhirnya kau bahkan tidak dapat lagi mengingat namaku, terlebih lagi kenangan kita.

Bukankah begitu menyedihkannya cinta? Ilusi yang kau tangkap ketika berbicara, bersentuhan, bertatap mata dengan dia, orang yang kau pikir kau cinta. Tetapi ketika orang itu tak lagi dapat kautemui, tak sudi lagi untuk kaukenang, ia menjadi buram, seperti kabut gunung yang kita lalui pagi itu, dengan kanan kiri semak asoka yang tajam, dan keras langkahmu yang selalu menuntunku.

Tetapi ilusi menyesatkanku. Aku mempertahankan ilusi itu bertahun-tahun. Memeliharanya, memupuknya seperti sebuah bibit yang kuyakini akan tumbuh menjadi pohon gagah nan rindang, yang bisa meneduhkan kita kala matahari sangat menyengat.

Aku salah.

Utara, kau angin yang selalu bertiup ke mana hati dan pikiranmu membawa. Kau terbang sebebas elang. Menggusah helai dedaunan, mengisi lembah-lembah pegunungan. Sementara aku? Aku layang-layang putus yang selalu mengikuti ke mana angin membawaku. Aku senang terbang bersamamu. Aku riang tersangkut di cabang pepohonan, menunggumu menarikku lagi. Sampai saat ini, ketika kusadar, tubuhku hanyalah dibuat dari secarik kertas, rangkaku hanya bilah kering ranting kayu. Aku hancur, tanpa pernah aku menyadarinya.

Ketika aku mencoba menari bersamamu lagi, kekuatanmu malah menghempasku. Aku limbung, dalam kebahagiaan yang murung. Ketika tubuhku tak mampu bergerak lagi, aku memandangmu, dari tanah yang lekat pada tubuh koyak.

Oh Utara, lalu kulihat dia, burung pipit kecil sedang menari bersamamu. Ia tertawa dan bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Ia terbang berputar-putar sampai kau memaksanya untuk berhenti, beristirahat dan membelai dengan desah alunanmu.

Aku iri, tentu saja. Bukankah itu wajar? Melihat kekasihmu menari bersama yang lain? Tetapi aku tak berdaya. Aku terbaring dalam diam, tak kuasa menahan awan hujan yang bersiap menghujam. Helai-helai tubuhku akan basah menyatu tanah. Rembesan air mata menenggelamkanku. Aku tahu sebentar lagi aku hilang. Luluh lantak dan pasrah.

Satu hal yang ingin kukenang di waktu terakhirku, kubisikkan pada hujan yang menetes satu-satu. Mungkin ia berbaik hati menyampaikannya padamu.

Aku ingat… Saat kau membelaiku dan mengatakan kalimat itu sebelum bibirmu menyapu lembut bibirku : “Aku ingin kau ada”.

~AE

air-hujan-biru-daun-kuning-emas

Dewi

Suara itu kembali. Memanggil namanya, merupa angin yang berbisik dari sela rimbun dedaunan, berputar dan saling menggesek, mendayu lalu hilang, sampai pengap memerangkap, kemudian mengulang senandung yang sama, memaksa lekat pada ingatan-sedetik yang membuatmu bergidik, namun selanjutnya menjadi menit-menit yang jamak, karena indramu sudah terbiasa mendengarkannya.

Dewi menatap bukit bebatuan di atasnya. Sebentar saja yang diperlukannya untuk sampai ke atas. Batu-batu besar itu menyebar di seluruh bukit. Sebagian menjorok ke samping, tajam dan basau. Sebagian lagi menghadap ke atas, besar dan bengah. Guratan dari bebatuan itu tampak ganjil, garis-garis melintang kasar dengan lubang-lubang kecil yang menyebar di seluruh badan batu.

Seorang arkeolog mengatakan bebatuan ini adalah kerang laut yang pernah hidup saat tempat ini-kampungnya menjadi lautan dangkal beribu-ribu tahun lalu. Gempa bumilah yang menyebabkannya bergerak ke atas, seolah-olah lautan dangkal itu marah dan bosan pada takdir, sehingga memutuskan menjelma menjadi sebuah gunung kecil, dengan sisa-sisa makhluk laut di dalamnya.

Orang itu-si arkeolog, tentu tidak tahu kejadian sebenarnya. Terlihat dari ucapan yang terbata-bata, bukan sebab ia asing dengan bahasa lokal, tapi sorot mata abu-abu itu tampak ragu saat menjelaskan hasil penelitian ilmiahnya di depan warga kampung. Tentu saja bisa dimaklumi, toh ia hanya meneliti berdasarkan benda temuan yang ada sekarang, bukan ikut hidup bersama kerang laut yang coba diyakininya di masa lampau.

Tapi Dewi merasa tahu segalanya. Ia masih remaja saat pria bermata abu-abu itu datang ke rumah ayahnya, kepala kampung di sana. Ia mengintip diam-diam dari sela-sela rongga dinding papan rumah ayahnya yang disusun membujur tanpa berpelitur. Ia menyimak percakapan tentang kerang laut, fosil manusia purba, gunung kapur dan bisnis pabrik yang pada akhirnya tidak semua dari hal-hal itu diungkapkan oleh si arkeolog ke warga sekampung. Ada beberapa hal yang cukup diketahui orang yang berkepentingan saja, kata ayahnya waktu itu.

Dewi merasa dicurangi. Tempat bermainnya, bukit dengan kerang-kerang laut (menurut si arkeolog itu), akan dijadikan pabrik penunjang gunung kapur di seberang, dengan persetujuan ayahnya sang kepala kampung, miris. Lancang nian orang asing bermata abu-abu itu, yang baru datang beberapa bulan saja, sementara ia seumur hidup bermain di sana.

Setiap Dewi menginjakkan kaki di bukit itu, tanah keringnya berubah menjadi hijau, menguarkan aroma segar rerumputan. Bebatuan abu-abu berubah kecoklatan, bertumbuh, mengeluarkan sulur-sulur dari lubang-lubang kecil di seluruh tubuhnya. Sulur-sulur itu akan menggeliat dan mengeras, membentuk batang-batang kokoh. Pucuk-pucuk hijau menyembul perlahan dari ujung-ujungnya, sekonyong-konyong membesar membentuk daun-daun setelapak tangan. Sekelompok burung jalak akan datang, hinggap berganti-gantian dari satu dahan ke dahan yang lain, bernyanyi diimbangi dengan suara serangga musim kering yang melantun dari rongga pepohonan. Kupu-kupu menyebarkan serbuk sari yang mereka hisap entah dari mana dan tetiba memunculkan bebungaan warna-warni : merah muda, ungu, putih, jingga.

Dewi akan berlari-lari kian ke mari, dengan rambut mayang melenggak-lenggok mengikuti tarian tubuhnya. Ia bisa menghabiskan hampir setengah hari di sana : memetik bunga-bunga kering dan merangkainya menjadi mahkota, atau mengumpulkan buah beri liar untuk dimakan sendiri.Ia selalu bermain setelah pulang sekolah, sebelum kembali ke rumah ayahnya. Dewi menyebut gubuk papan itu adalah rumah ayah, sementara rumahnya adalah di bukit berbatu, yang letaknya tidak jauh dari rumah ayahnya. Tidak ada anak lain yang bermain di sana. Sebab memang tidak ada yang menarik bagi mereka untuk ke sana, selain batu-batu besar yang tertanam di atas tanah gersang. Desas-desus warga sekitar pun menciutkan nyali. “Loba jurig”(1)kata para perempuan. “Teu aman”(2)kata para lelaki. Anak-anak harus menurut agar tidak celaka. Kecuali Dewi, karena ayahnya tak pernah hirau. Selalu ia di sana sampai petang menjelang.

Pada suatu siang yang terik, segera setelah mendengar percakapan rahasia sang ayah dan pria bermata abu-abu, Dewi memacu kaki-kaki mungilnya ke bukit batu. Seperti biasa, bukit gersang itu berubah rupa menjadi teduh, burung-burung berdatangan, berlomba-lomba bernyanyi untuk menghibur dirinya. Tetapi Dewi sedang bingung, hatinya limbung memikirkan nasib rumah bukit batu kelak. Ia menangis dan meratap di sebuah batu pipih besar yang biasa ia gunakan sebagai meja kerja ketika mengumpulkan bunga dan buah. Batu itu membujur, menempel pada satu batu lainnya yang besar tegak, seperti sebuah kursi singgasana yang muat diduduki oleh tiga orang sekaligus. Dewi merebahkan tubuhnya. Angin kering meniupkan senandung yang membasuh air mata, pucuk-pucuk pakis membelai pipinya dengan lembut sabut mereka. Dewi jatuh tertidur sampai senja mulai bertutur. Sayup ia mendengar suara seperti milik ibunya yang sudah lama pergi. Suara kasih ibu ketika membangunkan anak yang terlalu lelap tidur. Suara yang menyebutkan namanya. Lembut dengan jeda. Halus seperti bisik, tetiba melayut keras dan hilang.

Dewi mencari sumber suara itu dan mendapati celah kecil di balik batu pipih yang selama ini tak pernah diperhatikannya. Ia mengintip ke dalam, gelap yang dilihatnya tak menyisakan apa-apa selain rasa ingin tahu yang membuncah. Dewi mendorong batu pipih itu yang ternyata tidak seberat dugaannya. Ia menyelinap ke balik celah dan seketika matanya mulai terbiasa dengan keremangan di dalam gua. Selorot senja yang tadi memanggil dari dalam gua mulai melebar sebesar celah yang dibuat Dewi. Gua itu tidak terlalu besar, namun Dewi harus turun untuk sampai ke dasarnya. Mudah buat tubuh kecilnya meluncur di dinding-dinding gua dan dalam beberapa detik saja ia sudah sampai di dasar. Udara di dalam pengap dan lembab. Terhidu olehnya bau yang menggigit, mengingatkan pada bau tanah rawa ayahnya yang tak terurus. Segera didapatinya bulir-bulir kecil hitam yang berserakan di bawa kaki. Kotoran, pikirnya.

Dewi merasa diperhatikan dan ketika ia mendongak, didapatinya ratusan mata kecil berwarna merah yang menatap dari dinding seberang celah tempat ia masuk tadi. Mereka bergelantungan terbalik, sayap-sayap yang mengatup, dan kaki-kaki menempel lekat ke langit-langit gua. Satu di antaranya berbeda : bertubuh besar, berkulit lebih pucat dari teman-temannya dan bermata aneh. Mata itu berwarna abu-abu bening. Dengan semburat senja yang terperosok di dalamnya, mata itu seperti kelereng bening berbilah yang memerangkap apapun yang masuk ke dalam dan menikam. Mulut kecilnya menyeringai seperti hendak menerkam, dan sekilas Dewi melihat cairan kental merah yang leleh di sudut mulut itu. Jengah, Dewi membuang pandang darinya.

“Dewi,” kata si mata abu-abu. Suaranya tinggi dan halus.

“Kau tidak akan kehilangan rumahmu,” katanya lagi saat Dewi tak menjawab. Tentu ia tahu Dewi memaknai bukit batu ini sebagai rumahnya. “Asalkan kau mau memasakkan makanan untuk kami.”

“A… apa?” tanya Dewi linglung.

“Kau bisa menjadikan tempat ini sebagai dapurmu. Petiklah buah-buah beri, kumpulkanlah serangga-serangga untuk makanan kami. Kau tidak akan kehilangan rumahmu,” tegasnya lagi.

Dewi hanya bisa mengangguk. Pikirannya mendadak terang dan malam itu ia pulang dengan hati tenang. Apapun akan ia lakukan untuk mempertahankan bukit batu.

Berhari-hari dan berminggu-minggu sesudahnya, Dewi menjalani hidup dengan luapan rasa gembira. Ia mengumpulkan serangga-serangga kecil, memetik buah-buah beri yang tak pernah habis, bahkan terkadang membawa buah-buahan yang tak tersentuh di kebun belakang rumah ayahnya : pisang, pepaya, jambu batu. Ia membawa ke gua, tungku arang bekas yang sompal teronggok di dapur ayahnya, bekas pakai ibu waktu masih tinggal di rumah itu, kuali, sodet, minyak dan garam. Terkadang ia menumbuk serangga-serangga itu menjadi remahan kecil, mencampur dengan buah-buah beri berwarna merah dan ia menamainya Sambal Buah.

Lebih sering, ia menggoreng serangga-serangga itu dengan minyak dan garam. Ia turut makan bersama teman-temannya. Ia bahagia bersama mereka dan terbiasa tinggal berjam-jam di gua pengap dan lembab itu. Yang tidak diketahuinya adalah, ketika ia tertidur kelelahan, baik karena memasak atau pun bermain, makhluk-makhluk bersayap itu mengelilinginya, menaungi dengan sayap-sayap beledu mereka, dan bergantian mencicipi darahnya.

Ketika malam menjelang, Dewi akan pulang dengan terantuk-antuk batu maupun dahan, sebab remang bulan tak mampu menembus pepohonan di sekelilingnya. Di rumah ayahnya, ia akan mendapati beberapa luka kecil di tubuh dan mengganggap itu hasil kecerobohan saat berjalan.

Lewat beberapa minggu, Dewi mulai merasakan keanehan terjadi pada tubuhnya. Perutnya membuncit dengan nafsu makan yang semakin bertambah. Suatu malam, sang ayah melihat keganjilan ini.

“Saha nu ngareneuhan maneh!”(3) bentak ayahnya.

Dewi tergugu. Ia bahkan tidak tahu kalau dirinya hamil. Ayah mengambil sebatang kayu pengganjal pintu dan mulai memukuli punggungnya.

“Goblok! Kuduna maneh paeh we jiga indung maneh tah! Maneh teh budak eweuh kaguna!”(4)

Dewi terisak. Bukan karena rasa sakit dari deraan kayu, tetapi karena ayahnya menyebut ibu sudah mati. Padahal Dewi tahu, ibu hanya pergi dan harapnya suatu saat ia akan kembali.

Berkali-kali palang kayu itu mencumbu tubuhnya, sampai sakit yang ia dapatkan membuatnya kebas rasa dan Dewi terkapar.

Ketika bangun ia mendapati tubuhnya berada di bilik bambu Mak Odah, dukun tua di kampung itu. Tubuhnya terbaring telentang dan telanjang di atas kasur tipis tak berseprai. Di sampingnya sebuah baskom air hangat dengan banyak dedaunan di dalamnya. Beberapa daun dipaparkan di atas perutnya oleh Mak Odah yang setia duduk menemani. Seandainya tidak dalam keadaan kaku dan pilu, ia pasti sudah menanyakan apa saja khasiat daun-daun itu ke Mak Odah.

Ia menyukai Mak Odah, meskipun wanita tua itu ditakuti oleh anak-anak sekampung karena berwajah bengis. Bagi Dewi, Mak Odah seperti seorang nenek penyayang, mungkin wajah bengisnya itu hanya tipuan agar ia disegani orang-orang. Pernah suatu kali, ia tertangkap basah mengambil ubi di kebun belakang Mak Odah, alih-alih dihukum Dewi malah diajak masuk ke dalam rumah dan disuguhi teh rempah buatannya. Lihat saja sekarang, dengan satu tangan memapar dedaunan, tangan keriputnya yang lain membelai kening Dewi dengan handuk hangat.

“Geus hudang neng? yeuh nginum heula.” (5)Mak Odah menyodorkan segelas air putih.

Dewi mencoba bangkit tapi punggungnya tertahan sakit. Akhirnya ia rebah lagi.

“Eta jabang bayi na geus opat bulanan. Sakedeung deui ku ema erek dikaluarkeun, Bapa na neng embungeun ka ieu orok. Budak nu mawa apes cenah,”(6) Mak Odah berkata lirih.

Dewi kaget dan terisak.

“Alim Mak..,”(7)pintanya.

Mak Odah menatapnya kasihan. Ia menggeleng-gelengkan kepala dan mulai menekan-nekan perut Dewi.

Dewi berontak, menahan sakit dan marah tapi tubuhnya lunglai tak kuasa. Sekali lagi ia terkulai. Saat sadar, didapatinya satu baskom lagi di samping baskom air rempah tadi. Mak Odah sedang pergi. Ia menengok ke baskom yang baru dan melihat sebentuk daging dengan kain putih yang bernoda darah. Dilihatnya lebih jelas lagi dan ia meraung. Dipakainya kain pembungkus tubuh dengan asal dan didekapnya bayi itu.

Dewi menangis dan lari keluar dari gubuk bambu. Terseok ia pergi ke bukit batu yang dipercayai sebagai rumahnya, masuk ke gua persemayaman-tempat yang ia yakini aman. Teman-temannya bersuara ribut saat ia masuk dengan membawa bayi itu. Mereka mengerumuni Dewi dan berputar-putar di atasnya. Dewi merasa sangat letih dan membiarkan tubuhnya tertidur. Saat terbangun, subuh sudah bersauh.

“Pergilah kau. Pada masanya nanti kau akan melihat bayimu lagi,” kata si mata abu-abu. “Pergilah jauh.”

Ia menahan tangis. Kalimat itu menyihirnya berjalan ke luar gua. Menatap bintang-bintang sisa di angkasa yang gagal menguasai malam.

Dewi menatap bebatuan di atasnya. Sebagian menjorok ke samping, tajam dan basau. Sebagian lagi menghadap ke atas, besar dan bengah. Sebentar lagi ia akan sampai di batu yang paling atas, paling tinggi dan menghadap tebing curam.

Ia merentangkan tangannya ke samping merasakan hela angin yang membisiki namanya. Tubuhnya melayang turun, mendekati rimbun pepohonan dan cadas batu yang disebut oleh seorang arkeolog sebagai kerang-kerang laut purba.

*

Dewi tersentak. Peluh membasuh tubuhnya. Ia merasakan sakit di punggung dan pinggang karena tertidur di sofa keras ruang tamu kontrakan. Menunggu Awan yang tak juga pulang. Rupanya hari sudah gelap dan ia lupa menyalakan lampu. Hanya secarik sorot lampu jalanan yang menerobos masuk ke ruang tamu. Suara hujan yang menimpa atap seng membuatnya menggigil. Merasa diperhatikan, ia menoleh ke arah sudut ruang.

“Mas Awan?” panggilnya.

Awan kuyup oleh hujan. Ditimpali remang, matanya menyorot tajam ke arah Dewi. Menembus pandang seperti kelereng bening berbilah tikam. Tak pernah disadarinya selama ini sorot mata itu berwarna abu-abu.

***

~AE

1 : Banyak hantu

2: Tidak aman

3: Siapa yang menghamilimu?

4: Bodoh! Seharusnya kau mati saja seperti ibumu! Dasar anak tak berguna!

5: Sudah bangun? Mari minum dulu

6: Bayimu sudah berumur empat bulan. Sebentar lagi kukeluarkan. Ayahmu tak menginginkannya. Katanya bawa sial.

7: Jangan, Mak.

Catatan : Cerita fiksi ini terinspirasi oleh tempat bernama “Stone Garden” dan “Gua Pawon” di Padalarang. Cerita ini diikutsertakan sebagai bagian dari novel “Penulis Kedai” yang ditulis oleh para alumni Kelas Akting Salihara 2015.

IMG_2485

Seni Mengarang 5

Pemateri Workshop Cerpen Kompas kali ini adalah Linda Christanty dan Seno Gumira Ajidarma. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dirangkum oleh saya berdasarkan materi yang dibawakan oleh Linda Christanty (materi yang dibawakan oleh Seno Gumira Ajidarma akan ditulis terpisah).

Linda mengawali cerpen Kompasnya 26 tahun yang lalu, sebelumnya ia terobsesi untuk menulis cerpen pada majalah Anita Cemerlang dan ditolak.

Ia menanyakan kepada para peserta mengenai inspirasi dalam menulis cerita dan banyak jawaban untuk itu. Ada yang berangkat dari obrolan teman, kegelisahan pribadi, budaya tempat tinggalnya, maupun makanan yang disukainya.

Teknik Menulis

Menurutnya, penulis fiksi harus mampu meyakini pembaca atas kebohongan yang ditulisnya, sehingga pembaca meyakini cerita yang dibaca itu sebagai kisah nyata.

Contoh tulisan yang baik adalah cerita-cerita Alkitab (jika memang dituliskan oleh manusia). Di Alkitab ada kisah mengenai Nabi Musa yang memiliki tanduk cahaya, Nabi Yusuf yang tinggal di perut ikan dan pembaca meyakininya.

Tulislah cerita yang membuat pembaca seperti menemukan dirinya sendiri, juga berwarna.

Tulislah cerita yang kita bayangkan, sesuatu yang tidak ada tetapi pembaca meyakininya ada.

Itulah fiksi dan itulah sastra.

Ada beberapa hal dasar yang diyakininya sebagai dasar dari teknik menulis fiksi, yaitu :

1. Karakter / Penokohan

Penulis harus mampu menghidupkan tokoh-tokoh ciptaannya.

Contohnya adalah tulisan mengenai sastra Nazi oleh Roberto Bolano. Bolano menciptakan tokoh-tokoh rekaannya dengan detail seperti tahun kelahiran, tahun kematian, karya-karya sastra si tokoh dan hubungannya dengan peristiwa-peristiwa dunia sehingga pembaca akan menyangka bahwa tokoh-tokoh tersebut memang benar-benar pernah hidup dan ada.

Untuk itu diperlukan detail penokohan. Detail tidak digambarkan semata-mata secara fisik (baju yang dipakai, merk sepatu dan kaca mata yang digunakan) tapi juga harus ada keterkaitan dengan karakternya sehingga pembaca dapat tahu dari mana kelas sosial si tokoh berasal dan juga mencerminkan konflik batinnya. Detail tidak boleh mubazir, harus bertujuan.

Dalam teknik mengarang dulu, tokoh bisa dibagi menjadi protagonis dan antagonis. Tetapi kini, tokoh tidak lagi hitam putih. Ciptakan tokoh yang tidak sempurna. Misalnya, dari seorang tokoh yang baik, ungkap sedikit sisi gelapnya.

Akan lebih baik jika tokoh kita mempunyai role model dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kalaupun tidak, adakanlah riset.

Contoh lainnya : Shakespeare dikenal mampu untuk “menciptakan” manusia, membuat tokoh-tokoh baru dalam ceritanya.

2. Konflik

Konflik bukan saja berasal dari pergumulan si tokoh dengan tokoh lain (misal : konflik dengan orang tua), atau konflik eksternal (misal : konflik negara) tetapi juga konflik batin (psikologis si tokoh).

3. Kompleksitas / Perumitan

Yang dimaksud dengan kompleksitas adalah bukan cara menulis yang rumit, tetapi ceritanya yang rumit. Contohnya: Tokoh A memutuskan untuk kuliah lagi tetapi tidak direstui oleh orang tuanya, selanjutnya ia bermasalah dengan dosennya dan berakibat ia harus berhenti kuliah. Cukup rumit, bukan?

4. Krisis

Yaitu situasi genting yang menyebabkan si tokoh harus mengambil keputusan (apa yang harus dipilih atau tidak).

5. Penutup

Yaitu perubahan yang dialami oleh si tokoh atau situasi akhir yang dialaminya. Apakah klimaks atau anti klimaks?

Linda menyukai serial detektif Dexter. Cerita detektif dapat memberikan ide untuk ending yang tidak terduga. Tetapi ending yang tidak terduga harus juga memunculkan clue di beberapa bagian cerita, sehingga pembaca dapat mengaitkan ending tersebut dengan clue-clue yang tersebar di badan cerita.

Tips dalam menulis :

– Membaca banyak buku, tidak hanya dari satu penulis tetapi dari banyak sumber, juga tidak harus bacaan sastra saja.

– Ketika menulis, biarkan imajinasi berkembang bebas, tulis semuanya, jangan berperan sebagai penulis dan editor secara bersamaan.

– Setelah selesai menulis, baru diedit.

Latihan :

Tulislah satu paragraf deskriptif tentang suasana atau karakter!

Pembahasan cerpen

Pada bagian ini, Linda Christanty dan Seno Gumira Ajidarma membahas beberapa cerpen yang masuk sebagai persyaratan Workshop Cerpen Kompas. Berikut ini adalah tanggapan dari Linda terhadap beberapa cerpen (tanggapan Seno Gumira Ajidarma akan ditulis terpisah) :

Judul

Judul sebuah cerpen bisa menggambarkan isi, bisa juga tidak. Sebaiknya dihindari judul yang persis menjelaskan isi cerita.

Contoh yang sebaiknya dihindari : “Perempuan yang Mengawini Ombak” benar-benar menceritakan perempuan yang kawin dengan ombak (secara harafiah).

Judul sebuah cerpen juga tidak boleh membingungkan pembaca.

Contoh yang sebaiknya dihindari : “Mereka Tidak Mabuk Ia” (Ia siapa? Benda atau orang?)

Isi cerita

Jika ingin menciptakan adegan dramatis, juga harus logis. Misalnya : Ranjang yang berderik-derik (mengapa bisa berderik-derik?)

Pada sebuah karya sastra ada lapisan makna yang tersirat. Sastra yang baik, menyampaikan pesan dengan implisit. Meskipun pada tulisan Umar Kayam misalnya, ada hal-hal yang secara eksplisit disampaikan, tetapi melalui dialog para tokohnya.

Kadangkala penulis terperangkap pada pesan moral yang ingin disampaikan sehingga tampak seperti ceramah. Contoh yang sebaiknya dihindari : cerita yang menunjukan kejijikan pada praktek homoseksual.

Jika ketika menulis cerpen mengalami kebuntuan, tinggalkan sebentar, bacalah buku, menonton film/teater agar ide cerita dapat ditangkap lagi.

Kecenderungan penulis-penulis muda di Indonesia masa kini adalah menceritakan cerita horor/tahayul. Fenomena ini menarik bagi Linda. Ia pun pernah menulis cerita horor mengenai Hantu Padang Tiji di Aceh yang sebenarnya adalah kritiknya terhadap mitos penduduk setempat. Dalam hal ini. penulis harus bisa menceritakan sebuah cerita dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya menulis ulang mitos penduduk setempat.

Intro

Dalam menulis, ceritakan saja sebuah cerita dengan adegan. Jangan menjelas-jelaskan isi cerita kepada pembaca. Contohnya : “Karma Suci” terlalu menjelaskan apa itu karma di paragraf awal sehingga tampak seperti ceramah.

Kebanyakan penulis memulai intro secara konvensional : deskripsi suasana. Padahal bisa juga suatu cerita dibuka dengan dialog.

Hubungan antar paragraf harus konsisten.

Contoh yang tidak konsisten :

Pada paragraf pertama ditulis bahwa “rumah seolah mati”. Paragraf kedua dideskripsikan rumah tersebut ada meja kursi dan seorang tua yang tinggal di dalamnya. Sebaiknya langsung saja pada kalimat : Tiga hari yang lalu, rumah itu masih ramai.

Hal-hal yang klise juga terjadi dalam kalimat (hindari)

Contohnya dalam kalimat : Bunga itu sebuah lambang. Lambang a, b, c, d. Sebaiknya langsung saja pada kalimat : Ia mengenal nama-nama bunga itu tanpa harus melihatnya.

Irama

Penulis harus mengenal irama tulisannya. Jika terlalu lamban, tambahkan dialog (karena narasi melulu akan membuat lamban).

Sudut pandang tokoh

Sudut pandang tokoh bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan. Jika ingin sudut pandang yang luas, bisa menggunakan God eye’s view (orang ketiga). Jika ingin lebih personal, bisa menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi terbatas. Contohnya : Angin Musim oleh Mahbub Junaidi menggunakan sudut pandang seekor kucing.

Proses Kreatif

“Seekor Anjing Mati di Bala Murghab” mendapat komentar dari seorang tentara Afganistan bahwa anjing tidak dibunuh tanpa alasan. Tentara akan membunuh seekor anjing, jika anjing tersebut kedapatan mengganggu anjing-anjing para tentara.

Proses kreatif pembuatan cerpennya adalah ;

Linda mendapat sms dari seorang teman yang melihat seorang anjing ditembak di Afganistan dan seorang anak kecil menangisinya. Si teman merasa sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Linda mengembangkannya menjadi :

Bagaimana jika si anak ingin mengambil bangkai anjing tersebut tapi tentara melempar bangkai itu ke seberang jalan dan mengenai jubah seorang pria tua? Karena darah anjing dianggap najis oleh pria itu.

Proses kreatif adalah refleksi dari pengetahuan kita. Linda suka mencatat kalimat-kalimat di kertas yang diselipkan di dompet, mengumpulkan topik-topik yang disukai (fasis dan neofasisme) karena percaya suatu saat akan berguna. Selain itu penulis harus membuat deadline untuk diri sendiri (kapan tulisan akan selesai, dst).

~AE

Kado Paska yang Tertunda

Aku menggenggam kekosongan
Karena dalam ia kau ada
Aku memeluk kesepian
Karena dalam ia kau bersuara
Aku memelihara luka
Karena dengannya aku mengingat dirimu

Kematian bukanlah suatu perpisahan
Ia menjanjikan harapan
Akan suatu pertemuan
Kado yang tertunda untuk dibuka

Aku menghadirkan dirimu
Dalam seluruh mimpiku
Aku mendengarkan suaramu
Dalam setiap alunan lagu
Aku mengenang dirimu
Pada denyut yang kusentuh

Karena biru matamu membuatku luruh
Lembut belaimu membuatku jatuh
Dan aku menyimpan sebuah harapan
Akan suatu pertemuan
Kado yang tertunda untuk dibuka

*kepada malaikat kecilku yang mengajarkan untuk tidak lelah dalam pasrah. Dan tidurku akan lelap ketika mendengar detak jantungmu. Kita akan bertemu kembali. Di suatu hari nanti.

~AE

Suatu Hari Tanpamu

Aku menunggumu. Di sini, di restoran favoritmu. Aku sengaja memesan saung terujung yang ada di restoran ini, seperti biasa jika kita memutuskan untuk makan malam di sini. Tidak ada yang dapat menggangguku di sini. Mengganggu kita. Meski kita tertawa keras-keras atau menangis terisak-isak.

Senja mulai merangkak di ujung langit. Semburat kemerahannya memantulkan cahaya pada bulir-bulir padi mentah di pematang belakang restoran. Ia menjadi bagian dalam keseluruhan dekorasi alam di sini. Mungkin inilah yang membuat restoran ini ramai dikunjungi orang. Untuk memanjakan kerinduan manusia urban seperti diriku, akan kesatuan asalinya pada alam.

Aku selalu terpesona pada senja. Aku meninggalkan sejenak pulpen dan buku catatan kecilku. Menikmati sejenak momen matahari terbenam, meski di sini kita tak bisa melihat matahari yang turun perlahan ke garis langit. Hanya semburatnya yang perlahan menggantikan warna langit, dari jingga menjadi kemerahan, lalu menjadi ungu kelam, menandakan malam yang siap datang.

Biasanya kau akan sibuk memotret dengan kamera handponmu, meski tak satu pun gambar hasilnya yang akan kau posting di media sosial karena kau pikir tidak cukup layak untuk dipamerkan. Tapi kali ini kau tak ada. Dimana kau, Sayang? Ungu sudah berubah menjadi hitam, dan suluh-suluh sepanjang jalan menuju pematang di restoran ini sudah dinyalakan, tapi kau belum juga datang. Tidak biasanya kau terlambat datang pada janji pertemuan kita. Aku mencoba meneleponmu kembali. Entah sudah yang keberapa ratus kali? Tetap tak terhubung.

Om, Saraswati sweta warna ya namah.
Om, Saraswati nila warna ya namah.
Om, Saraswati pita warna ya namah.
Om, Saraswati rakta warna ya namah.
Om, Saraswati wisma warna ya namah.

Selarik mantra kudengar terhembus angin yang berbisik. Siapakah yang melantun puja puji? Aku menoleh ke kanan dan kiri, tapi tak terlihat seseorang yang sedang bersembahyang. Mungkin kerinduanku padamu yang membuat angin berbisik melalui jenjang tangkai-tangkai padi di pematang. Seperti aku mendengar suaramu pada hari itu, melantun puja-puji yang sama sembari memercikkan air dari bunga kemboja merah jambu ke arah buku-buku yang kau sebut kitab-kitab pengetahuan.

Saraswati. Aku merindukanmu. Hari itu merupakan hari paling bahagia dalam hidupku. Aku menemukanmu. Atau kau yang menemukanku? Kita berjumpa di kios buku keluargamu-yang berada di ujung jalan ini-saat aku sudah tidak tahu harus ke mana lagi, karena seluruh Ubud ini sudah kususuri. Aku memperpanjang hari cutiku yang tadinya hanya untuk memenuhi undangan festival sastra bergengsi di negeri ini, menjadi liburan yang menyelamatkanku dari kebisingan kota besar. Dan sebenarnya juga, mempertemukanku dengan takdir kebahagiaanku. Yaitu dirimu.

Kau yang tergila-gila pada pengetahuan. Kau yang menggilai buku-buku. Kau yang berkata : “Semahir-mahirnya perempuan memasak di dapur, ia pun harus punya kepandaian dalam berpikir, agar dapat memajukan keluarga dan bangsanya.” Herannya, aku tidak melihat (atau aku tidak memperhatikanmu?) yang selalu datang di setiap pertemuan festival sastra itu. Kau membaca semua buku-bukuku dan mengkritik beberapa karyaku. Aku hanya menjawab dengan kutipan Roland Barthes. Pengarang sudah mati, kataku tersenyum.

Hari itu kita berbincang lama sekali, seperti sepasang sahabat yang sudah lama tak bertemu. Mulai dari sastra dalam negeri sampai luar negeri. Mulai dari Pramoedya sampai Tagore. Ketika perut yang lapar memaksa kita untuk mencari pengganjal, kau memutuskan mengajakku untuk pergi ke restoran ini. Kita bisa makan sambil berbincang, katamu. Dan menu makanan di sini pun nikmat. Nikmat yang menyimpan rindu di dalam ingatan. Membuatmu selalu ingin kembali. Membekukan momen itu menjadi sesuatu yang tak mampu kau lupakan. Paling tidak itu yang terjadi padaku. Dan aku berhasil membuatmu menyetujui janji kita. Bertemu di setiap senja menjelang malam perayaan Saraswati.

Seperti saat ini. Tapi kau belum juga datang. Aku melirik penanda waktu di handponku. Pukul 19.00 tepat dan seorang pelayan berkebaya putih dengan cepol dan selipan bunga kemboja putih di telinga kirinya menghampiriku. Sosok rampingnya mengingatkanku pada dirimu. Selintas aku menghidu wangi rempah yang sering kau semprotkan pada nadi dan belakang telingamu. Rupanya aku benar-benar merindukanmu. Untung saja delusi belum mampu melumpuhkan cerna ingatanku sehingga tidak benar-benar menyangka staf itu adalah dirimu. Ia menanyakan kepadaku apakah sudah siap memesan menu makanan atau masih mau menunggu lagi. Aku malah mengoceh padanya, mengatakan menu kesukaanmu : bebek muda yang digoreng renyah (sampai jika kau menggigit tulang muda itu aku bisa mendengar “kriuk” dari dalam mulutmu) yang disajikan dengan lawar dan sambal matah segar. Irisan bawang dan cabai akan membuat matamu mengerjap-ngerjap basah dan bibirmu mendesah pedas. Aku selalu tertawa melihat mimik wajahmu yang seperti itu. Oh tidak, aku terlalu panjang bercerita kepada staf pelayan itu dan ia terlalu baik hati untuk meladeni ocehanku tentang dirimu. Karena rasa tak enak hati menyebabkan ia menunggu terlalu lama, aku memesan saja dessert untuk diriku sendiri. Menu utama akan kupesan nanti ketika kekasihku datang, kataku padanya.

Seperti memaklumi, ia mencatat pesananku. Black Russian Pie. Salah satu kue favoritmu juga. Pie dasar beraroma mentega yang renyah berpadu dengan lembut marshmallow yang menjadikan bagian tengah kue sedikit kenyal. Lapisan coklat di atasnya bercampur vodka dan kahlua, menciptakan rasa manis pahit di lidah, lalu hangat menjalar di kerongkongan, setelah kau memakannya.

Manis, pahit dan hangat. Bukankah itu kebahagiaan? Bukankah itu kita? Di setiap pertemuan dan di setiap kebersamaan kita, selalu ada rasa itu. Manis oleh cumbuan dan tawa, kadangkala juga pahit oleh debat dan pertengkaran. Tapi bukankah itu semua yang membawa kebahagiaan? Itu semua yang membawa kehangatan. Karena pertanda bahwa kita selalu melalui momen itu bersama. Kebersamaan. Kehadiran. Kebahagiaan. Tapi kau tidak bersamaku sekarang. Kau tidak hadir di sini. Di manakah kau? Setahun lalu aku memutuskan untuk pindah ke pulau ini, agar dapat lebih dekat denganmu. Aku memikirkan masa depan kita. Tetapi enam bulan sesudahnya kau mendapatkan tawaran mengajar di universitas tersohor di ibu kota. Aku tidak ingin menghalangimu. Bukankah kau mengabdi pada pengetahuan? Itu cita-citamu sejak dulu. Jarak tidak akan pernah memisahkan rasa, katamu. Aku percaya itu.

Staf pelayan itu sudah lama pergi. Suluh di pematang pun diam-diam meredup. Mungkin minyaknya perlu ditambahi? Apakah harapanku juga ikut meredup bersama suluh itu? Karena kehadiranmulah yang menjadi minyak dari suluhku. Aku melihat handponku lagi. Memelototi namamu yang tertera di daftar panggilan terimaku. Last call : two days ago. Itu saat kau memberitahu bahwa pesawatmu sudah siap lepas landas dan handponmu akan segera dimatikan. Sejak itu kau tidak dapat kuhubungi. Tapi aku tetap akan menunggumu pulang. Karena bersamamu, aku bahagia. Suara jangkrik di sekitar saung mulai mengisi rongga kekosongan. Nyanyian malam mulai terdengar melalui bisik-bisik angin yang berhembus. Aku tetap menunggu.

***

~AEImage

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! (dengan tulisan The Bay Bali yang di link ke website: www.thebaybali.com). 

Di Pagi Hari Pertama Kita Menangis

Hidup mungkin begitu cepat berubah. Seperti 24 jam yang kadang tak terasa bagi kita. Kadang kita bahagia kadang kita sedih. Begitupula kita. Aku dan kamu. Kemarin kita tertawa, hari ini kita menangis. Bersama.

Air mata bukanlah kepalsuan, jika ia tertitik dari sebuah muara berdasar hati. Kita punya hati. Tapi kita tidak saling memiliki. Aku membuat keputusan. Kau pun juga. Lalu kita sepakat. Menghentikan kenangan sampai di sini.

Apa yang paling menyiksa jika kau tidak dapat lupa tentang kenangan yang kaubuat sendiri untuk diingat? Karena itu kita sepakati cukuplah kenangan yang kita buat untuk diingat itu. Cukupilah otak kita untuk.menyimpan gambaran gambaran tentang kita. Aku dan kamu.

Iman, pengharapan dan kasih. Kau memberi dua di antaranya.  Kitab berkata yang terpenting adalah kasih. Tapi aku tidak. Aku perlu harapan. Kau sudah memberi iman dan kasih. Kau menyayangiku sepenuhnya dan mengimani bahwa kasih sayang itu akan selamanya. Kau berhasil membuktikannya. Selamat!

Tapi tidakkah kau lupa dimana harapan kau simpan? Sebab harapan yang mampu membuatku bertahan menunggumu. Ya, menunggu kamu. Tapi kau bilang ‘aku tidak punya harapan yang dapat kuberi’ . Jadi untuk apakah? Untuk apa kita bermain dengan waktu? Sedangkan ia teramat kejam dengan kita. Jika kau tak punya harapan, lebih baik kau hentikan waktu. Karena waktu akan membunuhmu. Pelan-pelan. Seperti pisau yang kumasukkan dalam nadiku. Sampai ia melelehkan merah yang menghanyutkan. Sampai merah itu melemahkan ingatan. Dan akhirnya kau mati. Kau lupa dengan apa yang sudah kau perjuangkan untuk selalu diingat.

Jadi. Beginilah akhirnya. Aku tak tahu sampai hari keberapa jari-jariku mampu mengetikkan kata-kata. Sampai hari atau bulan atau tahun keberapa lukaku akan sembuh. Jika tulisanku tidak lagi kautemukan, tentramkan hatimu. Bukan karena aku sudah melupakanmu. Melupakan kita. Tapi itu karena aku sudah berdamai dengan hatiku. Merelakan harapan yang memang tidak pernah ada. Membawa bersama iman dan kasihmu.

Selamat tinggal.

Di pagi hari pertama kita menangis,

AE~broken-heart-15036-L

Mona Promo Buku

Halo halo! Berhubung aku gak punya blog (sebenarnya sih aku punyanya situs -lebih keren kan-), jadi aku minjem akun blog duo kakak ini. Setelah melalui perijinan yang berbelit-belit kayak ranting-ranting melati di pekarangan rumahku akhirnya berhasil juga aku menulis di blog ini. Sebenarnya sih aku cuma mau ngajak kalian buat bantu warga spesies aku. Caranya? Dengan membeli buku seperti gambar di bawah. Seluruh royalti digunakan untuk keperluan kucing-kucing jalanan yang membutuhkan bantuan. 

Aku sendiri pun awalnya adalah kucing jalanan. Aku hampir buta kalau saja… Oops, kata manusiaku ga boleh spoiler. Kalo kalian ingin membaca kisahku atau sekedar memandangi fotoku yang imut maka belilah buku di bawah! Nah, kalau kalian ingin mendapat harga khusus untuk buku ini, datang saja hari ini ke Indonesia Book Fair pukul 15.00. Disana kalian cari stand Yayasan Peduli Kucing di Ruang Kenanga. Atau kalau kalian kesasar dan kebetulan tidak membawa peta, coba cari kucing tabby warna abu-abu. Psst, dia agen yang aku utus untuk menjaga kelancaran acara sebab siapa yang tahu kalau tiba-tiba ada segerombolan manusia yang berebut ingin memeluk atau berfoto bersama aku atau teman-temanku yang ada di sana. 

Ah, baiklah aku sudah terlalu banyak menulis, cerewet kata manusiaku. Pokoknya ingat ya, cari kucing tabby abu-abu dan tanyakan Mona kepadanya. Kalian akan diantar menemuiku. Jangan lupa bawa catfood ya!

Image

~Mo

 

Surat Untuk Diriku 26 Tahun yang Lalu

Percayakah kamu pada reinkarnasi?

Di suatu masa aku pernah percaya. Saat itu aku mati. Aku mohon kepada Tuhan (karena aku tidak mengenal Dewa) untuk tidak lagi melahirkan aku. Tapi sepertinya Ia tidak mau. Jadi aku menawar-Nya untuk menjadikan aku batu. Lagi-lagi Ia tidak mau. 

Aku mengemukakan alasan kenapa aku ingin jadi batu. Ia mendengarkan, tapi tidak mengabulkan. Ada alasan kenapa aku ingin jadi batu. Bukan karena aku ingin menjadi seperti si Malin, anak durhaka. Aku sayang orang tua. Aku ingin jadi batu lebih karena aku takut jantungku mati (batu tidak punya jantung). Meskipun saat percakapan itu terjadi, jantungku memang sudah pernah mati sekali.

Ia mati karena ditikam. Pertama kali oleh orang tuaku dan tanpa kusadari. Hanya rasa nyeri yang mendadak kurasa. Lalu kulihat ia mulai berdarah dan berhenti begitu saja. Mati.

Tentu saja aku hidup lagi. Karena jantung yang mati demikian mudah dihidupkan kembali oleh-Nya. Setelah kematian pertamanya, jantungku ditikam lagi berkali-kali. Sudah sedemikian seringnya ia mati dan hidup kembali. Tetap saja ketika ia mati ada air mata yang ikut luruh bersamanya dan mungkin sebagian jiwaku pun ikut pergi ke surga. 

Hari ini ada yang membunuhku lagi. Meski bukan pertama kalinya ia membunuhku. Mungkin ia seorang psikopat yang tak puas membunuhku sampai aku bereinkarnasi. Mungkin juga ia hanya ingin membantu cepatnya proses aku menjadi batu. Tapi tetap saja, saat jantungku ditikam rasa nyeri datang lagi, lau menghilang membawa serta luruhan air mata. Dan sebagian jiwaku terbang ke surga.

Begitulah rasanya. Kau percaya kan? Seharusnya ya, karena kau yang merasakan mati pertama kali.

Dirimu 26 Tahun Kemudian

~AE

Image

 

 

Selamat Datang

Menulis dan membaca. Kegiatan yang sangat berhubungan erat. Mereka yang gemar membaca biasanya gemar menulis. Ada beberapa orang yang melakukannya karena mengisi waktu luang, adapula yang karena tuntutan pekerjaan.

Apapun alasannya pastilah kita semua sehati dan sepikiran karena bisa bertemu di laman ini. Disini kami menuangkan semua ide, opini dan cerita untuk dibagi. Baik tentang curhat keseharian, cerita konyol, kisah perjalanan sampai resep masak atau ideologi dan filsafat hidup.

Belajar dan berbagi itu sangat menyenangkan. Mari kita menjelajah bersama! 😉

~AE