Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya

Penulis : Dewi Kharisma Michellia

Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Juni 2013

Tebal : 240 halaman

Harga : Rp. 45.000

 Seperti judulnya, novel ini mengisahkan tentang cinta yang tak terjangkau. Cinta yang tak tersampaikan antara seorang perempuan dengan teman masa kecilnya yang disebutnya Tuan Alien. Ditulis dalam narasi tanpa dialog berbentuk surat dalam kurun waktu tiga tahun dengan bahasa yang indah tertutur. Selama itu pula ia tidak berani menyampaikan perasaan-perasaannya secara langsung, menyesali hal-hal yang tidak berani ia lakukan saat masih ada waktu bersama orang yang dicintainya. Penyesalan-penyesalan yang ia pendam sendiri dan dituliskan dalam surat-surat panjang yang juga tidak berani ia kirimkan. Alur yang digunakan adalah alur maju dengan beberapa reflektif biografi sang penulis. Selain tentang cinta, novel ini juga menceritakan perenungan-perenungan mendalam seorang manusia tentang masa lalu, adat istiadat yang membelenggu, keluarga yang tidak harmonis, gaya hidup kapitalis, mimpi-mimpi dan renungan dalam menghadapi kematian. Beberapa tokoh sastrawan Indonesia dan luar negeri juga diangkat di sini beserta pandangan dan idealisme mereka. Latar belakang tragedi 1998 yang digambarkan sangat nyata, pembungkaman pers pun ikut mewarnai surat-surat panjang sang penulis. Meski tanpa dialog, novel ini dengan kemuramannya sendiri mampu menghanyutkan pembaca ke dalam fragmen-fragmen hidup seseorang serupa film dan menyatu dengan perasaan serta pemikirannya. Wajar saja jika mendapat penghargaan sebagai pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta.

 How do you say goodbye to someone you can’t imagine living without? I didn’t say goodbye, I didn’t say anything, I just walked away –My Blueberry Nights, Wong Kar Wai.

Image

~AE

Rahasia Kita

10844447-couple-lover-holiday-happy-island-sea-beachSemalam aku bermimpi. Tentang kamu dan aku : kita. Berlari di tepi pantai, berlomba dengan gulungan ombak dengan kaki telanjang. Kau tertawa, aku tertawa. Kita bahagia. Sampai napas kita sendiri menghianati, dan kita berhenti. Kau menggenggam tanganku, mengatakan sesuatu lewat matamu. Dan di atas pasir itu  kita bercinta. Di bawah sinar matahari yang menyengat, tubuhmu mengilat. Aku melihat kau bercahaya, dengan butir-butir pasir yang melekat. Sekali lagi kau mengatakan sesuatu melalui matamu. Aku mengangguk. Membiarkanmu pergi. Mengabadikan punggungmu menjadi satu titik dalam horizon langit. Saat itu aku tahu, hatiku mengatakan sesuatu kepadamu : Selamat tinggal.

~AE

Perjalanan Masa Lalu

Tugu Payan Mas

Senja merangkak naik saat bus Penantian Utama yang kutumpangi berhenti di poolnya. Suara kondektur bus memaksa pergi kantuk yang delapan jam setia menemaniku. Silau dengan lampu bus yang tiba-tiba dinyalakan, mataku mengerjap-ngerjap beberapa detik sebelum benar-benar terbuka.

“Kota… habis… kota… habis!” Si kondektur memandangku tak sabar keluar dari mobilnya. Dengan tas ransel mencangklong di pundak, aku menjejakkan kaki ke tanah berumput di pinggir jalan. Sisa-sisa hujan membasahi bagian bawah kaki jeansku ketika aku melangkahkan kaki ke arah bundaran perempatan jalan yang cuma beberapa meter jauhnya dari pool.

Di tengah-tengahnya, menjulang sebuah tombak berwarna emas dengan perisai-perisai tembaga tersandar di bawah. Beberapa kekat-penutup kepala khas pria Lampung-berjajar mengelilingi tombak. Oh, bagus. Sangat patriarkal. Aku bukan feminis, tapi aku tidak suka jika perempuan dipinggirkan dan tidak boleh ambil bagian. Dan tugu ini melambangkan kekuatan (atau keangkuhan?) laki-laki.

Aku memandang sekeliling, mencoba menarik ingatan tentang jalan ini. Mataku tertumbuk pada papan hijau penanda nama jalan. Jalan Sudirman. Dengan aksara Lampung yang tertulis rapi di bawahnya, yang dulu pernah kupelajari tapi sekarang tak kumengerti. Pantas saja aku merasa asing. Dulu bundaran ini hanya perempatan lampu merah biasa. Tombak emas itu belum ada.

Satu dua mobil angkutan kota berwarna biru berlalu di hadapanku. Beberapa anak sekolah bergerombol menyeberang jalan sambil bercanda. Wajah-wajah muda yang tanpa masalah selain ulangan sekolah dan cinta. Aku iri. Ingin rasanya menjadi muda, ingin rasanya bebas tanpa masalah. Langit seakan mendukung rasa iriku, menghadirkan lagi gerimis yang membawa serta potongan masa lalu.

Seorang gadis dengan seragam putih abu-abu berjalan terburu-buru. Mungkin karena gerimis datang tiba-tiba dan ia lupa membawa payung? Tapi kulihat matanya menangis. Tangannya menahan tas sekolah yang disampirkan di belakang roknya. Teman-teman perempuanya cekikikan beberapa meter di belakangnya. Kubilang teman karena mereka memakai bet yang sama di seragam putih abu-abunya. Oh, apa yang dikasak-kusukkan mereka di belakang si gadis? Ingin kudamprat mereka semua. Bukankah kalian temannya? Tidakkah kalian lihat matanya yang menangis? Mendadak si gadis melambai menghentikan mobil angkutan berwarna biru. Saat ia naik barulah kulihat apa yang menjadi permasalahannya. Sebuah noda membundar di belakang roknya. Aku tahu perasaan itu. Saat mendapati darah pertama merembes di celana dalammu yang biasanya putih bersih. Penanda bahwa rahimmu sudah siap bereproduksi. Kedewasaan biologis yang memaksa jiwa kanak-kanakmu sadar diri. Batasan kebebasan menuntutmu untuk bertingkah seperti orang dewasa yang menyebalkan. Tidak boleh lagi berlama-lama bermain boneka dan masak-masakan. Harus menjaga jarak dengan lelaki. Ia pasti belum dipersiapkan untuk itu. Rasa bingung dan takut pasti melanda jiwa kanak-kanaknya yang direnggut secara paksa. Aku ingin memeluknya, memberitahu bahwa menjadi dewasa tidaklah seburuk yang dia sangka. Belajar memutuskan segalanya untuk diri sendiri. Belajar untuk menjadi tahu mana yang baik dan benar. Seperti Hawa yang memakan buah apel di taman Firdaus. Suatu saat ia akan menikmati momen-momen kedewasaannya.

Aku ingin memberitahukannya segera, jadi aku ikut menghentikan mobil angkutan biru seperti yang ia naiki tadi. Sambil berharap tidak kehilangan jejak mobil biru di depanku, diam-diam aku mulai menikmati wangi tanah basah bercampur aspal yang didatangkan gerimis. Mobilku melaju melewati plang pembatas kota : ‘Selamat Datang di Kotabumi Bettah’. Betah? Kalau betah, tentunya aku dan teman-temanku tidak akan pergi dari sini, memilih merantau daripada tinggal di kota sendiri. Belakangan kulihat tulisan di sampingnya ‘Bersih-Elok-Tentram-Takwa-Aman-Hidup’. Aku sangsi melihat moto kota ini. Yang jelas aman tentram tidak lagi berlaku di sini, setelah berbagai peristiwa yang banyak dipengaruhi situasi politik negeri.

Rumah Sakit Umum Ryacudu

Mobil biru di depanku berhenti. Si gadis berseragam putih abu-abu turun. Masih dengan terburu-buru meski gerimis sudah pergi. Aku ikut turun setelah menyerahkan uang dua ribuan ke sopir. Hanya beberapa detik berpaling dan sekarang gadis itu menghilang. Yang kulihat adalah seorang ayah yang begitu tergesa-gesa membopong seorang gadis usia delapan tahunan yang lemah di pundaknya. Ia berhenti di depan sebuah patung kepala seorang mayor TNI. Ryacudu, prajurit gagah berani yang berjasa dalam membebaskan Irian Barat. Aku mendekatinya dan mendengarnya bercakap-cakap dengan dengan seorang perawat di beranda rumah sakit itu.

“Tolong panggil segera dokternya!” kata sang ayah histeris. Sekilas kukira dia akan menangis. Ia pasti khawatir bercampur kesal dengan pelayanan rumah sakit ini. Memang agak sulit untuk mendapatkan dokter yang benar-benar mau mengabdi di kota kecil. Dan jika ada pun, satu atau dua dokter saja juga akan kewalahan menghadapi pasien-pasien yang bukan saja datang dari kota tersebut, tapi juga dari berbagai daerah pinggiran di sekitarnya. Perhatianku beralih pada gadis kecil di pundak sang ayah. Gadis kecil itu mirip dengan gadis berseragam putih abu-abu yang kulihat tadi. Dengan tahi lalat di pipi, hanya saja matanya tidak menangis. Mata mungil itu terpejam. Sesaat kukira ia sudah mati kalau tidak kulihat sebelah tangannya yang bergerak pelan merangkul leher sang ayah. Ia pasti harta yang sangat disayangi oleh ayahnya. Oh, beruntungnya kau nak. Memiliki orang yang sangat menyayangimu, bahkan mungkin rela bertukar nyawa denganmu. Aku bergerak mundur ketika seorang dokter muda menghampiri kerumunan dan menggiring ayah dan gadis kecil itu ke ruang UGD.

Kukira aku telah kehilangan jejak si gadis berseragam putih abu-abu dan sekarang aku berjalan kembali ke jalan raya. Dengan ransel di pundak, aku menyusuri trotoar yang naik turun. Trotoar disini dibuat lebih tinggi daripada bangunan di belakangnya, membuat aku harus menghemat udara kalau tidak ingin cepat lelah. Beberapa rumah makan di kiri-kanan jalan tampak terang oleh lampu-lampu putih. Variasi makanan khas nusantara, mulai dari pempek, ayam bakar, bakso sapi, nasi goreng, martabak  mengingatkan aku akan rasa-rasa yang melekat di lidah selama delapan belas tahun tinggal di sini. Belasan tahun berikutnya lidahku sudah terkontaminasi oleh steak dan bir metropolitan. Aku berjanji akan mencobai makanan ini satu per satu esok hari. Sekarang perutku masih terlalu penuh oleh roti dan angin yang kumakan selama perjalanan tadi.

Tanah Miring

“Mau diantar ke rumah Non?” Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku mengenali Mang Sarbini, kuli panggul ayahku dulu. Ya, ayahku dulu adalah salah satu juragan hasil bumi yang terkenal di kota ini. Ia tersenyum senang ketika tahu aku masih mengingatnya. Meskipun wajahnya yang dulu muda sekarang sudah penuh guratan. Rambutnya memutih, namun tubuhnya masih terlihat tegap, tidak kalah dengan tubuh teman-temanku yang berotot karena fitnes. Sekarang Mang Sarbini alih profesi menjadi tukang becak. Aku dengan senang hati minta diantarnya pulang ke rumah. Ia mengayuh becaknya pelan-pelan sambil bercerita tentang usahanya. Tidak ada pekerjaan sebagai kuli yang ia dapat karena pedagang hasil bumi sekarang sudah gulung tikar. Dengan terbukanya akses jalan ke kampung-kampung kecil, bandar dari kota-kota besar langsung membeli hasil bumi dari para tengkulak desa. Jadi Mang Sarbini memutuskan menarik becak untuk menafkahi keluarganya. Penghasilannya juga tidak sebesar kuli panggul. Sekarang cari duit susah Non, katanya. Palingan sehari ia hanya mendapat dua puluh ribu, hanya untuk makan seadanya. Meskipun begitu ia tampak ikhlas menjalani hidup.

Tak terasa kami sudah memasuki Jalan Raden Intan. Jalanan tampak gelap dan lengang. Berbeda dengan jalan-jalan yang kami lalui tadi penuh lampu-lampu putih, jalan Raden Intan tampak suram. Kau tak akan percaya bahwa jalan ini, yang disebut juga dengan Tanah Miring (karena jalanannya yang semakin melandai) pernah menjadi jalan utama menuju ujung Sumatera. Disinilah pusat perdagangan berlangsung. Semua orang dari Jawa dan ujung Sumatera pergi ke sini mencari barang untuk dijual kembali. Tapi itu dulu, ketika jalan lintas Sumatera di daerah Menggala belum diresmikan. Seiring perpindahan jalurnya, Tanah Miring mulai ditinggalkan. Ia serupa artis musiman yang bersinar di kala umur 20-an dan saat tua dilupakan orang. Toko-toko lama yang tersusun dari papan-papan kayu tampak lapuk tergerogot waktu. Sementara ruko-ruko yang pernah dibangun dengan beton dan cat warna-warni  mulai mengelupas disana-sini.

Becak berhenti di depan sebuah gang. Aku membayar ongkos ke Mang Sarbini dan memberi uang lebih untuk mengganti kenangan yang telah ia ceritakan dengan murah hati kepadaku. Gang ini masih sama, mungkin satu-satunya yang terlihat sama di kota ini setelah berpuluh-puluh tahun berlalu. Jalannya masih berupa batu-batu besar tidak diaspal, dengan selokan besar di kanan-kirinya. Aku berhenti berjalan setelah beberapa meter mendapati sebuah warung kecil yang kini hanya menyisakan papan-papan lapuk. Dulu Etek, seorang wanita Minang pernah berdiam disitu. Tempat aku membeli kelanting hanya dengan uang lima rupiah. Di depannya, berdiri sessat, rumah pangung besar yang terbuat dari kayu. Atap gentingnya sebagian sudah ambrol, mungkin diterpa angin dan air hujan yang menyusup masuk. Pondasi dan tiang-tiangnya masih utuh menandai kejayaannya di masa lalu. Tetapi saat kujejak tangga kayu di depannya, bunyi “krak” memaksaku untuk mundur. Akhirnya aku duduk di tangga kayu itu  sendiri dan memandang ke langit yang bersih. Rupanya gerimis tadi menghapus semua awan yang menggumpal, menyisakan sepotong bulan yang tidak malu-malu. Samar aku mendengar suara di balik malam yang hitam. Aku melihat ke arah sessat dan seorang gadis sedang tertawa manja di atas pangkuan ayahnya. Gadis yang sama seperti yang kulihat di rumah sakit tadi, hanya mungkin usianya baru lima tahun saja. Sang ayah sedang mendongengkannya tentang kelinci mulia yang menyerahkan dirinya sebagai persembahan Dewa. Tiba-tiba si gadis kecil melompat dan memanjat tiang rumah. Tangannya menunjuk-nunjuk ke langit yang kelam.

“Lihat Papa, ada kelinci di bulan.” Suaranya merdu membangkitkan rindu. Aku menengadah ke langit mengikuti arah telunjuk mungilnya. Benar, purnama di sana. Bukan bulan sepotong seperti yang kulihat tadi. Bibirku mengembangkan senyum. Aku memandang mereka bergantian, gadis kecil dan ayahnya.  Perlahan rasa damai meresap di kalbu dan tanpa sadar aku menitikkan air mata.

“Papa, aku pulang,” kataku lirih. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.

~AE

masalalu

Gadis Kretek

Penulis : Ratih Kumala

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 284 halaman

Harga : Rp.58.000,-

Novel ini berlatar belakang sejarah bangsa, kaya akan rasa dan aroma tembakau. Diawali dengan Romo Raja, juragan rokok terbesar di Indonesia yang sekarat dalam usia tuanya menyebutkan satu nama “Jeng Yah” yang membuat geger keluarga. Dengan ibu yang cemburu, ketiga pewaris : Tegar, Karim dan Lebas mulai mencari tahu siapa, dimana, mengapa “Jeng Yah”. Pencarian mereka menguak sejarah keluarga, dendam dan cinta masa lalu yang berimbas pada masa kini.

Tokoh-tokoh dalam novel ini berasal dari beberapa generasi sesuai dengan setting waktunya. Moeria-Roemaisa pada jaman sebelum kemerdekaan (penjajahan Belanda dan Jepang), Soeraja-Darsiyah di jaman Orde Lama (G30S/PKI), Tegar, Karim, Lebas di masa sekarang. Alur yang dipakai adalah maju –mundur, pengkisahan yang sedikit demi sedikit menjawab pertanyaan di bab-bab awal sehingga selalu menimbulkan rasa penasaran pembaca.

Selain kisah cinta yang berlatar sejarah perjuangan bangsa, novel ini juga menceritakan sejarah kretek, awal mula terbentuknya dan bagaimana industri rokok dapat berkembang. Juga ragam budaya yang menjadi setting tempatnya : Jawa Tengah.

Sayangnya masih ditemukan berbagai typo di sana sini, juga penulis menyamarkan nama kota asal pabrik kretek yang dimaksud (Kota M) sementara kota-kota lain tersebut dengan jelas : Kudus, Temanggung, Yogyakarta, Magelang, Surabaya, sehingga terkesan ada ketidakterbukaan di sini. Selain itu penokohan juga dibuat dari berbagai segi, kadang dari narator pihak ketiga, kadang dari orang pihak pertama yang membuat pembaca harus berhati-hati.

Terlepas dari kekurangannya, banyak pesan moral yang dapat dipetik dari novel ini, mulai dari kerja keras, ambisi, persaingan sampai bagaimana tembakau bisa menghidupi banyak orang.

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN (halaman 7, Gadis Kretek).

 ~AE

Image

Colokan

Benda yang dicurigai jadi kebutuhan primer di masa kini. Ngga heran karena manusia jaman sekarang selalu mobile, sampai handpon berjejer tiga : blackberry, ipon/android, cdma. Lalu apa yang tak bisa dibawa kemana-mana? Ya, colokan.

Sampai ada seorang teman yang mengaku fakir colokan, kalo salah satu handponnya lowbat dy langsung panik. Kenapa ya? Padahal yang ditunggunya bukanlah kabar penting, misal pengumuman kelulusan atau panggilan wawancara. Tapi hanya chattingan bersama teman-teman di ujung serat fiber tak kasat mata yang sebenarnya toh bisa ditunda. Atau cuma lomba pamer foto yang menunjukkan eksistensi diri “gue sedang exist disini” “gue sedang sama siana” “gue sedang makan anu”. Biar dikata gaul dan gak kuper.

Lucunya mereka bisa diperdaya waktu karena perhatiannya terhadap handpon yang berlebihan, karena akhirnya mereka sadar bahwa “kerjaan belom kelar” atau “oh gue lupa itu” atau yang lebih parah kalo lupa sama orang yang sedang ada di sampingnya.

Seorang teman yang lain berkata kalo dia lebih baik menghargai orang yang ada di sampingnya ketimbang orang yang di ujung serat fiber tak kasat mata. Sebab kalo terjadi apa-apa, misalkan bencana atau kiamat, siapa yang akan membantu kita terlebih dahulu? Ya, orang yang ada di samping kita fisiknya. Benar juga.

Lalu? Tenang saja kalo begitu. Gue bukan fakir colokan. Gue ada power bank. Loh loh? Ini kan sama aja. Solusi pengganti colokan ya power bank, dengan begitu handpon tetap nyala 24jam dan kita tetap exist. Yah!

~AE 

Image

 

La Jolie Chat

Matahari sudah tak menyengat lagi. Siang beranjak petang. Madame Jeannette-Ludy keluar dari rumahnya di 4 Rue Norvins. Tangan kirinya menggendong Coco, kucing Persia berbulu emas, sementara tangan kanannya merapatkan pagar besi warna hijau yang sudah termakan karat. Ia mendongak dan berseru ke arah jendela atas rumah bertingkat satu itu.

“Jangan lupa coklatnya di au-bain-marie, Dear.”

Leila, pembantu rumah tangganya yang sedang menyiram bunga-bunga geranium di beranda jendela mengangguk. Terakhir kali mereka membuat kue coklat, Leila lupa cara membuat ganache. Ia memasak langsung coklat-coklat blok itu sampai menggumpal dan berbau hangus. Akibatnya ia disuruh berbelanja lagi di toko bahan kue yang lumayan jauh dari Rue Norvins.

Madame Jeannette-Ludy berjalan menyusuri Rue Norvins menuju Place du Tertre, taman rindang tempat berkumpulnya para pelukis jalanan yang menjajakan bakat mereka membuat siluet dan sketsa. Langkahnya lebar-lebar membuat rok motif bunga-bunganya yang semata kaki berkibar pelan. Rambut cokelatnya yang ikal pendek kadang tersapu angin sore membuat kesan acak pada wajahnya yang bulat. Ia tergesa berbaur dengan para turis berkaus oblong, bercelana pendek dan berkacamata hitam.

Liburan musim panas seperti ini semakin banyak turis yang memadati Montmartre. Biasanya mereka berkunjung ke Sacre Cour-basilika bergaya Byzantine-Romanesque peninggalan abad ke-19-atau ke Saint Pierre-gereja pertama para Jesuit dengan mozaik dan lukisan indahnya. Sebagian turis hanya ingin menyesap anggur terbaik yang dihasilkan di distrik ini, dijual di sepanjang jalan-jalan Montmartre. Salah satunya Maison Catherine.

Madame Jeannette-Ludy berhenti sebentar di depan restoran berkanopi merah itu. Catherine sedang membersihkan meja-meja berlapis tartan merah putih di depan restorannya. Ia tampak mungil berhadapan dengan Madame Jeannette-Ludy yang bertubuh besar. Rambut pirangnya dibiarkan lurus terurai di bahu. Wajahnya yang berbintik-bintik membuat kesan kanak-kanak meski usianya tiga puluh lima.

Biasanya jika Madame Jeannette-Ludy berjalan-jalan sore seperti ini, mereka berdua akan mengobrol sekitar 10-15 menit di depan Maison Catherine. Catherine akan menceritakan tentang kencan-kencannya sementara Madame Jeannette-Ludy akan menceritakan tentang tingkah Coco kucingnya, atau Leila, pembantu keturunan Asianya yang setia. Ya, tidak ada yang bisa diceritakan Madame Jeannette-Ludy selain Coco dan Leila sejak Stefan suaminya pergi setahun lalu. Setahun lalu Madame Jeannette-Ludy mendapati Stefan berkencan dengan Catherine di sekitar Boulevard de Clichy. Mungkin mereka hendak menonton kabaret atau hanya keluar masuk sex shop di sepanjang jalan itu.

Madame Jeannette-Ludy tahu sifat tak setia suaminya, juga kebiasaan sahabatnya yang sering bergonta ganti pasangan. Tapi yang tak disangka adalah suami dan sahabatnya tega berhianat di belakangnya. Berhari-hari Madame Jeannette-Ludy tidak keluar kamar. Leila dengan sabar memasak dan mengantarkan makanan untuk nyonyanya. Beberapa kali Catherine ingin menemuinya, tapi Madame Jeannette-Ludy menolaknya. Sampai suatu hari Madame Jeannette-Ludy memutuskan untuk keluar dari kamar, memaafkan suami dan sahabatnya, ia mendapati surat dari Stefan yang memutuskan untuk pergi meninggalkan Paris, meninggalkan dirinya. Madame Jeannette-Ludy pergi menemui Catherine yang juga kaget mendengar kabar kaburnya Stefan. Catherine meminta maaf dan Madame Jeannette-Ludy memaafkannya. Sesederhana itu persahabatan mereka kembali. Mungkin karena Madame Jeannette-Ludy tidak punya sahabat lain selain Catherine, atau ia hanya merasa senasib seperti Catherine, bukan perempuan pilihan Stefan.

“Maaf Catherine, nanti kita sambung lagi, ma cherie…,”kata Madame Jeannette-Ludy memotong cerita Catherine tentang Paul, lelaki yang dikencaninya dua minggu terakhir. “Aku buru-buru,”katanya lagi sambil membelai Coco.

Belum sempat Catherine menjawabnya, Madame Jeannette-Ludy sudah berlalu pergi. Badannya yang besar mendesak beberapa turis yang asik berfoto di depan des Chasseurs-kafe yang berada tepat di persimpangan Rue Norvins dan Plaza du Tertre. Satu di antaranya mendelik marah namun Madam Jeannette-Ludy mengacuhkannya.

Ia harus bergegas karena sebentar lagi malam tiba dan pelukis yang ia cari akan menutup lapaknya. Benar saja, sesampai di pojok taman, dengan payung hijau besar, pelukis itu sedang membereskan barang jualannya. Marseille, pemuda itu akan berangkat ke Italy besok pagi. Sudah lama ia meninggalkan ibunya yang berkebangsaan Italy, dan kemarin ia mendengar kalau ibunya sedang sakit keras. Ia harus pulang. Seminggu terakhir ini Madame Jeannete-Ludy tertarik pada pemuda itu. Pelukis yang menggelar lapaknya tak jauh dari Galerie Montmartre. Meski ia tidak berani mengutarakannya , ia sering bercerita pada Leila di meja dapur.

“Pemuda itu sibuk sekali Leila, banyak yang minta dibikinkan siluet olehnya sampai ia tak sempat mengikat rambut cokelatnya yang basah keringat”atau“Pemuda itu Leila, hari ini melukis sepasang kekasih. Oh mata birunya… Andaikan ia mau melukisku suatu hari nanti”.

Tapi Madame Jeannette-Ludy tak berani meminta dilukis, sampai tadi pagi Leila memberitahunya bahwa Marseille akan pergi dari Paris, kota tempatnya mencari nafkah untuk merawat ibunya yang sedang sakit. Buru-buru Madame Jeannette-Ludy mencari akal untuk menemuinya. Akhirnya ia memutuskan membawa Coco untuk dilukis.

“Bonsoir, Monsieur,”sapa Madame Jeannette-Ludy. Lalu ia meminta Marseille melukis kucingnya dalam wujud betina yang cantik karena Coco adalah kucing jantan. Ia kesepian karena tidak ada betina yang menginginkannya, kata Madame Jeannette-Ludy sedih. Entah ia sedih atas empatinya terhadap Coco atau karena kisah Coco yang dibuat alasan untuk menggambarkan dirinya. Berbeda dengan Catherine yang mudah mendapatkan kencan dengan lelaki, Madame Jeannette-Ludy tidak berkencan sejak suaminya minggat setahun lalu. Ia sadar mungkin karena rupanya yang tidak semolek Catherine atau karena sifatnya yang pemalu atau karena statusnya yang janda. Ia hanya berharap pelukis tampan di hadapannya ini mau bersimpati padanya. Menghabiskan senja bersamanya di taman yang romantis.

Marseille hanya tersenyum. Ia mulai membuat coretan ringan dengan pensilnya, menggambar kucing Persia yang diam di pangkuan Madame Jeannette-Ludy. Tidak memakan waktu lama untuknya melukis Coco, yang diam-diam disesali oleh Madame Jeannette-Ludy karena berarti waktu kebersamaan mereka semakin singkat.

Setelah Coco selesai dilukis, Madame Jeannette-Ludy menawari makan malam bersama di area taman du Tertre. Awalnya Marseille merasa sungkan tapi Madame Jeannette-Ludy mendesaknya dengan alasan 50 Euro yang dihargai Marseille untuk Coco yang berwujud bohemian itu menurutnya belum cukup. Akhirnya mereka memilih membeli pizza sambil duduk santai di kursi taman itu. Sementara mereka berdua memandangi lukisan Coco, kucing itu sendiri asik mendengkur di pangkuan Madame Jeannette-Ludy. Tampaknya ia tidak terlalu peduli dengan betinanya.

“La Jolie Chat,”kata Madame Jeannette-Ludy sambil memandang lukisan di tangannya.

“Ya, kucing yang cantik, “kata Marseille setuju. Seperti harapan Madame Jeannette-Ludy, mereka menghabiskan malam itu dengan tertawa dan cerita sampai sedikit orang lagi di Plaza de Tertre. Setelah saling mengucapkan selamat tinggal, Madame Jeannette-Ludy pulang ke rumahnya. Malam itu ia tidur sambil tersenyum. Besok pagi ia akan mengantar kue cokelat ke Maison Catherine dan sahabatnya itu pasti akan terkejut dengan ceritanya malam ini. Ia telah berani melangkah. Memulai kencan pertamanya setelah sekian lama, meski ia tahu ia tak akan bertemu lagi dengan pemuda itu.

Madame Jeannette-Ludy tidak akan menyangka bahwa selain Catherine, ia yang mula-mula akan dibuat terkejut keesokan paginya. La Jolie Chat-nya lenyap bersama Leila, pembantu kesayangannya yang hanya meninggalkan kertas catatan bertulisan acak-acakan dan uang 50 Euro di samping Coco yang pulas di atas bantal empuknya :

“Saya pulang, Madame. Ibu mertua sakit. Lukisan saya bawa, ini Marseille yang minta saya untuk mengambilkannya. Saya tahu Madame tidak akan kasih saya pulang. Maafkan saya. Au revoir.”

~AE

la jolie chat

Kang Cepot

KANG CEPOT

Aku berkenalan dengan Kang Cepot di suatu pagi di bulan Februari. Ketika kakiku baru menjejak di lantai kayu sebuah perahu. Perahu milik Sangkuriang, pemuda yang konon memiliki kekuatan sakti, mampu membuat perahu dan danau sekaligus dalam semalam. Dilakukannya itu demi cinta. Ah, cinta. Yang mampu membuat Sangkuriang melakukan segalanya.

Kang Cepot duduk di perahu. Entah apa yang dilakukannya, aku tak tahu pasti. Kabarnya ia memang sering berada di tempat-tempat keramaian untuk menghibur hati. Aku melihat Kang Cepot tersenyum padaku, seperti nyengir, sebab seringai keluar dari giginya yang besar cakil. Matanya ramah meskipun wajahnya merah. Wajah merah belum tentu sedang marah. Tangannya melambai mengajakku duduk bersama. Aku merapatkan sweter abu-abuku. Hawa dingin sepertinya sanggup menembus kulit dan menggigilkan tulang-tulangku.

Urang Cepot, katanya. Tanpa dia perkenalkan dirinya, aku pun sudah tahu. Ia cukup terkenal, apalagi di kalangan masyarakat Sunda. Dialah karakter kesukaan Asep Sunandar,  maestro wayang golek di negeri ini. Kang Cepot senang bercerita, dan aku suka mendengar ceritanya. Ia menceritakan dirinya, ayah dan saudara-saudaranya, desanya di Tumaritis, sampai ke hal-hal politik yang tak aku mengerti. Ia menceritakan itu semua sambil menemaniku duduk di tepian perahu yang mengelilingi danau. Waktu tak akan terasa lama dengan mendengar ceritanya. Suaranya lucu dan ia senang tertawa.

Darinya aku tahu bahwa lagu Panon Hideung-lagu Sunda yang sering kunyanyikan di kelas tanpa kutahu artinya-ternyata berasal dari Rusia. Pak Marzuki menggubahnya karena jatuh cinta pada Neng Eulis, gadis Sunda keturunan Arab. Ah, cinta memang mampu menjadikan segalanya. Seperti Sangkuriang, seperti Pak Marzuki. Matakna, kudu tetep jatuh cinta, pesan Kang Cepot. Ah, Kang Cepot, sayang waktu menghimpit kita padahal aku masih ingin mendengarmu bercerita. Akhirnya kupuaskan saja telingaku mendengarmu bersenandung :

Panon hideung/pipi koneng/irung mancung/putri Bandung

Putri saha/di mana bumina/abbi reseup/kaanjeunna

Siang wengi/kaimpi-impi/hate abdi/sara redih

Teuemut dahar/teuemut nginum/emut kanu geulis

Panon Hideung

~AE

Image

Cita-Cita

Aku sering bercita-cita. Ya, memang sering. Bagiku cita-cita seperti kacang goreng yang banyak dijumpai di mana-mana. Di tepi jalan tol atau di bus-bus antar kota yang sering kutumpangi dulu saat mudik. Bedanya kacang goreng dijual, cita-cita gratis. Mungkin karena gratis, aku jadi sering bercita-cita.

Pernah dulu waktu SD saat ditanya “apa cita-citamu” aku menjawab ingin menjadi guru. Aku ingin mendapatkan gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”. Belakangan kupikir pahlawan seperti itu tidak akan diingat orang, justru tanda jasa yang membuat orang mengingat kita. Si Ini mendapat bintang satu, si Anu mendapat piagam ini. Tapi waktu itu aku coba juga untuk mengajar privat tetanggaku, seorang bocah yang dipersiapkan untuk masuk ke Sekolah Dasar. Bukannya mengajar membaca tulis, aku malah ikut bermain perang robot bersama dia. Jadilah aku diberhentikan oleh orang tuanya. Tapi paling tidak aku pernah menjadi guru. Dan itu berarti cita-citaku sudah tercapai.   

Pernah juga aku bercita-cita ingin menjadi biarawati, karena kupikir cool sekali jika aku berjalan tergesa-gesa dengan menenteng-nenteng Kitab Suci dan rosario. Aku bisa dengan seenak perut masuk ke asrama anak laki-laki di samping gereja, lalu menyuruh mereka belajar, makan, tidur. Menghukum dan memarah-marahi mereka yang tidak patuh. Aku akan disegani banyak orang. Tapi untuk cita-cita yang satu ini tampaknya tidak mungkin aku capai. Biarawati tidak diperkenankan untuk jatuh cinta pada laki-laki, sementara aku sangat mudah jatuh cinta pada lelaki.  

Beberapa cita-cita juga masih belum dapat atau mungkin tak dapat kucapai, misalnya menjadi arsitek (aku tidak terlalu paham tentang ruang dan bangun), menjadi astronot (aku tidak pintar berhitung, satu-satunya yang aku suka dan berhubungan dengan astronomi hanyalah membaca horoskop). Aku tidak pernah bercita-cita menjadi dokter seperti cita-cita anak kecil pada umumnya. Karena kupikir dokter sudah banyak yang mencita-citakan. Bahkan Susan si boneka yang bisa bicara itu saja juga latah ingin menjadi dokter. Jika semua orang menjadi dokter, lalu siapa pasiennya?

Ada juga cita-cita yang masih dalam proses. Misal menjadi psikolog. Ini cita-citaku semasa SMA. Aku melanjutkan studi S1 psikologi untuk mencapainya. Tapi ternyata tidak semudah itu menjadi psikolog. Setelah lulus S1 harus dilanjutkan dengan studi profesi. Karena itu, cita-cita yang ini masih kutunda, sambil mencari peluang untuk melanjutkan studi.

Cita-cita berikutnya adalah menjadi konsultan pajak. Kesamaannya dengan psikolog, profesi ini juga memiliki klien yang beragam. Cita-cita ini datang ketika aku melihat kesuksesan mereka yang menjadi konsultan pajak : terkenal dan memiliki banyak uang. Aku pun berusaha menempuh pendidikan untuk mengarahkan cita-citaku. Tapi kebosanan tampaknya menghambat pencapaian cita-cita ini. Di sini aku belajar bahwa uang bukanlah tujuan yang kuat untuk mendasari cita-cita.

Menjadi baker adalah cita-citaku yang muncul belakangan. Tergelitik oleh ajakan seorang teman, kami sepakat untuk belajar memasak kue bersama. Usaha ini kami jalankan secara online berdasarkan pesanan, namun belum mencapai totalitas yang diinginkan. Sebagai cita-cita, kuanggap ini sudah tercapai.

Semasa SMA aku pernah ingin menjadi penulis. Tapi saat itu ayahku mengecamnya. Penulis itu orang yang kurang kerjaan, katanya. Kerjanya melamun sepanjang hari, lama-lama bisa jadi gila. Aku menguburkan niatku meski masih sambil menulis beberapa cerita untuk kusimpan sendiri. Barangkali aku tidak pernah menguburkan cita-cita ini, atau mungkin cita-cita ini yang mencariku lagi. Sampai tahun lalu ketika ada ajakan menulis keroyokan dari kelompok GIMS (Gerakan Indonesia Membaca Sastra) aku menyetujuinya. Lalu lahirlah buku ini, Siluet dalam Sketsa : kumpulan cerpen dari kami sang penikmat sastra. Buku ini anak pertamaku, ia setia berada di kamarku dan sudah berulang kali kubaca dan kubaca lagi. Setahuku, ada juga beberapa teman yang menaruhnya di dalam kamar, bahkan di dalam kotak kaca seperti sebuah barang langka di museum. Meski masih jauh dari sempurna, tapi kurasa inilah salah satu pencapaian cita-citaku yang bahkan pada awalnya tak mampu berwujud cita-cita.

~AEImage

Dimi

Kenalkah kau pada Jimi? Ya, ia yang sering muncul di televisi. Lelaki yang tingginya mungkin hampir menyentuh langit-langit kamar ini. Ia selalu menjadi pusat perhatian kalau sedang berada di keramaian. Barangkali karena tingginya yang tidak umum bagi orang Asia. Atau karena parasnya yang lebih menerakan etnis Yahudi. Seperti Orang yang dikagumi oleh Jimi, yang dulu pernah mati dikhianati. Beda dengan Jimi, Orang itu sangat percaya pada Cinta. Bahkan mengajarkannya kemana-mana. Cintailah sesamamu manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri, kata-Nya. Sementara Jimi? Dia tidak percaya adanya cinta. Cinta itu bullshit! Begitu teorinya. Tapi aku tahu, sebenarnya Jimi punya cinta. Hanya ia terlalu takut untuk mengakuinya. Kenapa aku bisa bilang begitu? Karena aku saksinya.

Sore itu, Jimi kalang kabut menyusuri lantai berbatu yang dingin. Kaosnya sedikit basah terpercik air hujan yang mengenainya saat melalui ruang terbuka pertokoan, yang konon dibuat menyerupai jalanan kota Paris. Sudah satu jam lebih ia berkeliling mall yang luas ini. Ia melirik penunjuk waktu di blackberrynya. 17.15. Empat puluh lima menit lagi waktu yang ia miliki. Aku harus bergegas, pikirnya cemas. Dan saat itulah ia melihatku. Bersandar manis pada rak kayu di etalase. Matanya yang tajam langsung berbinar senang. Ia memasuki toko tempatku berada. Bunyi kelinting ketika pintu didorongnya malah menambah semangatnya untuk menghampiriku.

“Mbak, saya beli bantal ini,” katanya setelah membalas salam si pramuniaga. Pramuniaga itu masih terpukau melihat Jimi. Ia masih mengira-ngira dalam hatinya di sinetron apa ia pernah melihat wajah lelaki ini.

“Ada yang lain loh Mas. Ada anjing, sapi, monyet. Silakan lihat-lihat dulu,” kata si pramuniaga ramah. Mungkin ia hanya ingin memperpanjang waktu melihat artis idolanya.

“Ngga usah, saya mau kucing ini,”tegas Jimi.

Si pramuniaga buru-buru menaruhku dalam kantong kertas besar, sementara Jimi berjalan ke arah kasir untuk membayar.

Jimi keluar dari toko dengan sumringah. Kini ia duduk di sebuah kafe bersamaku. Menunggu. Aku tak tahu siapa yang ia tunggu, tapi ia tampak gelisah. Kadang-kadang ia memencet blackberrynya atau ia hanya menyesap espressonya sambil melirik ke arah pintu.

Seorang perempuan datang ketika hujan di luar kafe sudah berhenti. Perempuan itu mirip kucing. Matanya kecil, hidungnya mencuat ke atas dengan bibir mungil. Tinggal ditambahi kumis, maka jadilah ia sepertiku.

Happy Birthday!,” kata Jimi sambil menyerahkan aku. Perempuan itu menjerit gembira saat melihatku. Ia terus-terusan mengucapkan terima kasih pada Jimi sambil memelukku.

“Namanya Dimi,”kata perempuan itu spontan.

“Kenapa Dimi?”

“Dari Jimi.” Lalu mereka berdua tertawa bersama. Entah karena mentertawakan namaku atau kebodohan mereka yang memilih nama itu.

Selanjutnya kami bertiga menghabiskan malam bersama. Mata Jimi selalu berbinar jika memandang perempuan kucing itu. Aku tahu itu binar bahagia. Binar cinta. Meski ia tidak mau mengakuinya. Sudah cukup lama aku bersandar pada rak kayu etalase. Memperhatikan pasangan-pasangan yang berlalu lalang sambil bergandengan tangan. Orang tua maupun anak muda. Mereka selalu menatap dengan binar yang sama. Dan kini aku pun memilikinya. Aku jatuh cinta. Pada perempuan yang selalu berkunjung ke kamar ini. Bersandar padaku sambil melingkarkan ekornya. Bulu-bulunya yang putih halus terkadang jatuh menggelitik pinggangku. Tapi aku suka. Tidak seperti Jimi, aku akan menyatakan cintaku padanya. Suatu hari nanti.

~AE

Image

Tiga Burung Kecil, Terbang Menggapai Mimpi

Tiga Burung KecilJudul : Tiga Burung Kecil

Penulis : Mikha Ramadewi, Tjatursari Oetoro, Josefine Yaputri

Penerbit : Plotpoint

Cetakan : I, Maret 2013

Jumlah Halaman : 222

Harga : Rp. 39.000,-

Inilah novel hasil kolaborasi dari tiga perempuan kelas menulis Clara Ng. Salah satu bukti pencapaian nyata bahwa menulis novel tidak harus sendiri. Mereka memiliki kekompakan untuk menyusun plot, riset, menulis bab per bab secara bergantian, dan disatukan menjadi novel.

Tema yang digarap di sini sungguh menarik. Pendekatan perusahaan penerbangan BlueGreen Airlines terhadap isu ramah lingkungan. BGA mengadakan kompetisi perekrutan pramugari pramugara internasional. Dimulai dari kompetesi nasional yang diadakan di Tomohon, Sulawesi Utara berlanjut ke
Kyoto, Jepang dan berakhir di Marrakesh, Afrika. Penggambaran setting tempat yang detil mampu membuat pembaca seperti ikut mengunjungi kota-kota tersebut. Misalnya danau Linow dan rumah Woloan di Menado, Kuil Kiyomizu-Dera dan michiya di Jepang, dan suasana gurun pasir Afrika.

Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, tokoh-tokoh dalam cerita ini memiliki keunikan masing-masing. Odette yang impulsif, Jess yang lembut dan Sam yang tegas seperti mewakili ketiga penulisnya yang berhasil menjaga kekompakan mereka untuk berjuang sampai garis finish.

Sayangnya terdapat ketidakkonsistenan dalam beberapa bab. Misalnya pada bab awal penyebutan orang tua Odette adalah “ayah ibu” sementara di bab-bab selanjutnya “papi mami”. Lalu di Bab 13, diceritakan Sam jarang mendengar Odette berbicara, padahal jelas sekali Odette digambarkan dari awal selalu ceria dan banyak bicara sehingga suatu kali Sam sempat meledeknya. Contoh lainnya ada di Bab 11 dimana terjadi adegan hampir menabrak yang tertulis “tabrakan tidak terjadi” tapi di halaman selanjutnya tertulis “Ah ini kan cewek yang semalam tabrakan sama aku”.

Kekurangan juga terasa pada beberapa kegiatan yang diklaim sebagai ramah lingkungan. Misal saat kompetisi di Manado, peserta diminta menjual hewan-hewan di Pasar Tomohon. Kegiatan ini rasa-rasanya tidak berhubungan dengan isu ramah lingkungan. Kebalikannya, beberapa kegiatan lain sebenarnya sangat menarik untuk dibahas lebih mendalam, misal menanam tumbuhan lokal pada tanah setempat, memasak makanan dengan hemat energi, membantu sistem pengairan pada pemukiman penduduk Afrika.

Secara keseluruhan, novel yang juga diberi sentuhan romance ini sukses membawakan pesan kepada pembaca selain isu ramah lingkungannya. Bahwa mimpi harus tetap dipelihara, namun tujuan bukanlah yang terpenting, melainkan proses dalam mencapai tujuan itu.

“Pernahkah sayang, kau membuka mata. Melihat diri, dunia dambaan? Rumput hijau, bunga berwarna. Ow ow ow dan tiga burung kecil terbang bebas”

~AE