Surat Untuk Utara

Utara,

Saat surat ini kau baca, mungkin kita sudah berpisah lama. Atau mungkin kita sudah tidak saling kenal. Suatu waktu kita berpapasan di antara riuh kendaraan, atau bising pejalan, selintas kalimat akan muncul di benakmu : “hei, sepertinya aku kenal dia” atau “hei, diakah si anu?”. Sementara sel-sel otakmu bekerja aktif untuk mengingatku, kotak kenanganmu enggan membuka engsel yang mungkin sudah berkarat bertahun-tahun, dan akhirnya kau bahkan tidak dapat lagi mengingat namaku, terlebih lagi kenangan kita.

Bukankah begitu menyedihkannya cinta? Ilusi yang kau tangkap ketika berbicara, bersentuhan, bertatap mata dengan dia, orang yang kau pikir kau cinta. Tetapi ketika orang itu tak lagi dapat kautemui, tak sudi lagi untuk kaukenang, ia menjadi buram, seperti kabut gunung yang kita lalui pagi itu, dengan kanan kiri semak asoka yang tajam, dan keras langkahmu yang selalu menuntunku.

Tetapi ilusi menyesatkanku. Aku mempertahankan ilusi itu bertahun-tahun. Memeliharanya, memupuknya seperti sebuah bibit yang kuyakini akan tumbuh menjadi pohon gagah nan rindang, yang bisa meneduhkan kita kala matahari sangat menyengat.

Aku salah.

Utara, kau angin yang selalu bertiup ke mana hati dan pikiranmu membawa. Kau terbang sebebas elang. Menggusah helai dedaunan, mengisi lembah-lembah pegunungan. Sementara aku? Aku layang-layang putus yang selalu mengikuti ke mana angin membawaku. Aku senang terbang bersamamu. Aku riang tersangkut di cabang pepohonan, menunggumu menarikku lagi. Sampai saat ini, ketika kusadar, tubuhku hanyalah dibuat dari secarik kertas, rangkaku hanya bilah kering ranting kayu. Aku hancur, tanpa pernah aku menyadarinya.

Ketika aku mencoba menari bersamamu lagi, kekuatanmu malah menghempasku. Aku limbung, dalam kebahagiaan yang murung. Ketika tubuhku tak mampu bergerak lagi, aku memandangmu, dari tanah yang lekat pada tubuh koyak.

Oh Utara, lalu kulihat dia, burung pipit kecil sedang menari bersamamu. Ia tertawa dan bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Ia terbang berputar-putar sampai kau memaksanya untuk berhenti, beristirahat dan membelai dengan desah alunanmu.

Aku iri, tentu saja. Bukankah itu wajar? Melihat kekasihmu menari bersama yang lain? Tetapi aku tak berdaya. Aku terbaring dalam diam, tak kuasa menahan awan hujan yang bersiap menghujam. Helai-helai tubuhku akan basah menyatu tanah. Rembesan air mata menenggelamkanku. Aku tahu sebentar lagi aku hilang. Luluh lantak dan pasrah.

Satu hal yang ingin kukenang di waktu terakhirku, kubisikkan pada hujan yang menetes satu-satu. Mungkin ia berbaik hati menyampaikannya padamu.

Aku ingat… Saat kau membelaiku dan mengatakan kalimat itu sebelum bibirmu menyapu lembut bibirku : “Aku ingin kau ada”.

~AE

air-hujan-biru-daun-kuning-emas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s