Dewi

Suara itu kembali. Memanggil namanya, merupa angin yang berbisik dari sela rimbun dedaunan, berputar dan saling menggesek, mendayu lalu hilang, sampai pengap memerangkap, kemudian mengulang senandung yang sama, memaksa lekat pada ingatan-sedetik yang membuatmu bergidik, namun selanjutnya menjadi menit-menit yang jamak, karena indramu sudah terbiasa mendengarkannya.

Dewi menatap bukit bebatuan di atasnya. Sebentar saja yang diperlukannya untuk sampai ke atas. Batu-batu besar itu menyebar di seluruh bukit. Sebagian menjorok ke samping, tajam dan basau. Sebagian lagi menghadap ke atas, besar dan bengah. Guratan dari bebatuan itu tampak ganjil, garis-garis melintang kasar dengan lubang-lubang kecil yang menyebar di seluruh badan batu.

Seorang arkeolog mengatakan bebatuan ini adalah kerang laut yang pernah hidup saat tempat ini-kampungnya menjadi lautan dangkal beribu-ribu tahun lalu. Gempa bumilah yang menyebabkannya bergerak ke atas, seolah-olah lautan dangkal itu marah dan bosan pada takdir, sehingga memutuskan menjelma menjadi sebuah gunung kecil, dengan sisa-sisa makhluk laut di dalamnya.

Orang itu-si arkeolog, tentu tidak tahu kejadian sebenarnya. Terlihat dari ucapan yang terbata-bata, bukan sebab ia asing dengan bahasa lokal, tapi sorot mata abu-abu itu tampak ragu saat menjelaskan hasil penelitian ilmiahnya di depan warga kampung. Tentu saja bisa dimaklumi, toh ia hanya meneliti berdasarkan benda temuan yang ada sekarang, bukan ikut hidup bersama kerang laut yang coba diyakininya di masa lampau.

Tapi Dewi merasa tahu segalanya. Ia masih remaja saat pria bermata abu-abu itu datang ke rumah ayahnya, kepala kampung di sana. Ia mengintip diam-diam dari sela-sela rongga dinding papan rumah ayahnya yang disusun membujur tanpa berpelitur. Ia menyimak percakapan tentang kerang laut, fosil manusia purba, gunung kapur dan bisnis pabrik yang pada akhirnya tidak semua dari hal-hal itu diungkapkan oleh si arkeolog ke warga sekampung. Ada beberapa hal yang cukup diketahui orang yang berkepentingan saja, kata ayahnya waktu itu.

Dewi merasa dicurangi. Tempat bermainnya, bukit dengan kerang-kerang laut (menurut si arkeolog itu), akan dijadikan pabrik penunjang gunung kapur di seberang, dengan persetujuan ayahnya sang kepala kampung, miris. Lancang nian orang asing bermata abu-abu itu, yang baru datang beberapa bulan saja, sementara ia seumur hidup bermain di sana.

Setiap Dewi menginjakkan kaki di bukit itu, tanah keringnya berubah menjadi hijau, menguarkan aroma segar rerumputan. Bebatuan abu-abu berubah kecoklatan, bertumbuh, mengeluarkan sulur-sulur dari lubang-lubang kecil di seluruh tubuhnya. Sulur-sulur itu akan menggeliat dan mengeras, membentuk batang-batang kokoh. Pucuk-pucuk hijau menyembul perlahan dari ujung-ujungnya, sekonyong-konyong membesar membentuk daun-daun setelapak tangan. Sekelompok burung jalak akan datang, hinggap berganti-gantian dari satu dahan ke dahan yang lain, bernyanyi diimbangi dengan suara serangga musim kering yang melantun dari rongga pepohonan. Kupu-kupu menyebarkan serbuk sari yang mereka hisap entah dari mana dan tetiba memunculkan bebungaan warna-warni : merah muda, ungu, putih, jingga.

Dewi akan berlari-lari kian ke mari, dengan rambut mayang melenggak-lenggok mengikuti tarian tubuhnya. Ia bisa menghabiskan hampir setengah hari di sana : memetik bunga-bunga kering dan merangkainya menjadi mahkota, atau mengumpulkan buah beri liar untuk dimakan sendiri.Ia selalu bermain setelah pulang sekolah, sebelum kembali ke rumah ayahnya. Dewi menyebut gubuk papan itu adalah rumah ayah, sementara rumahnya adalah di bukit berbatu, yang letaknya tidak jauh dari rumah ayahnya. Tidak ada anak lain yang bermain di sana. Sebab memang tidak ada yang menarik bagi mereka untuk ke sana, selain batu-batu besar yang tertanam di atas tanah gersang. Desas-desus warga sekitar pun menciutkan nyali. “Loba jurig”(1)kata para perempuan. “Teu aman”(2)kata para lelaki. Anak-anak harus menurut agar tidak celaka. Kecuali Dewi, karena ayahnya tak pernah hirau. Selalu ia di sana sampai petang menjelang.

Pada suatu siang yang terik, segera setelah mendengar percakapan rahasia sang ayah dan pria bermata abu-abu, Dewi memacu kaki-kaki mungilnya ke bukit batu. Seperti biasa, bukit gersang itu berubah rupa menjadi teduh, burung-burung berdatangan, berlomba-lomba bernyanyi untuk menghibur dirinya. Tetapi Dewi sedang bingung, hatinya limbung memikirkan nasib rumah bukit batu kelak. Ia menangis dan meratap di sebuah batu pipih besar yang biasa ia gunakan sebagai meja kerja ketika mengumpulkan bunga dan buah. Batu itu membujur, menempel pada satu batu lainnya yang besar tegak, seperti sebuah kursi singgasana yang muat diduduki oleh tiga orang sekaligus. Dewi merebahkan tubuhnya. Angin kering meniupkan senandung yang membasuh air mata, pucuk-pucuk pakis membelai pipinya dengan lembut sabut mereka. Dewi jatuh tertidur sampai senja mulai bertutur. Sayup ia mendengar suara seperti milik ibunya yang sudah lama pergi. Suara kasih ibu ketika membangunkan anak yang terlalu lelap tidur. Suara yang menyebutkan namanya. Lembut dengan jeda. Halus seperti bisik, tetiba melayut keras dan hilang.

Dewi mencari sumber suara itu dan mendapati celah kecil di balik batu pipih yang selama ini tak pernah diperhatikannya. Ia mengintip ke dalam, gelap yang dilihatnya tak menyisakan apa-apa selain rasa ingin tahu yang membuncah. Dewi mendorong batu pipih itu yang ternyata tidak seberat dugaannya. Ia menyelinap ke balik celah dan seketika matanya mulai terbiasa dengan keremangan di dalam gua. Selorot senja yang tadi memanggil dari dalam gua mulai melebar sebesar celah yang dibuat Dewi. Gua itu tidak terlalu besar, namun Dewi harus turun untuk sampai ke dasarnya. Mudah buat tubuh kecilnya meluncur di dinding-dinding gua dan dalam beberapa detik saja ia sudah sampai di dasar. Udara di dalam pengap dan lembab. Terhidu olehnya bau yang menggigit, mengingatkan pada bau tanah rawa ayahnya yang tak terurus. Segera didapatinya bulir-bulir kecil hitam yang berserakan di bawa kaki. Kotoran, pikirnya.

Dewi merasa diperhatikan dan ketika ia mendongak, didapatinya ratusan mata kecil berwarna merah yang menatap dari dinding seberang celah tempat ia masuk tadi. Mereka bergelantungan terbalik, sayap-sayap yang mengatup, dan kaki-kaki menempel lekat ke langit-langit gua. Satu di antaranya berbeda : bertubuh besar, berkulit lebih pucat dari teman-temannya dan bermata aneh. Mata itu berwarna abu-abu bening. Dengan semburat senja yang terperosok di dalamnya, mata itu seperti kelereng bening berbilah yang memerangkap apapun yang masuk ke dalam dan menikam. Mulut kecilnya menyeringai seperti hendak menerkam, dan sekilas Dewi melihat cairan kental merah yang leleh di sudut mulut itu. Jengah, Dewi membuang pandang darinya.

“Dewi,” kata si mata abu-abu. Suaranya tinggi dan halus.

“Kau tidak akan kehilangan rumahmu,” katanya lagi saat Dewi tak menjawab. Tentu ia tahu Dewi memaknai bukit batu ini sebagai rumahnya. “Asalkan kau mau memasakkan makanan untuk kami.”

“A… apa?” tanya Dewi linglung.

“Kau bisa menjadikan tempat ini sebagai dapurmu. Petiklah buah-buah beri, kumpulkanlah serangga-serangga untuk makanan kami. Kau tidak akan kehilangan rumahmu,” tegasnya lagi.

Dewi hanya bisa mengangguk. Pikirannya mendadak terang dan malam itu ia pulang dengan hati tenang. Apapun akan ia lakukan untuk mempertahankan bukit batu.

Berhari-hari dan berminggu-minggu sesudahnya, Dewi menjalani hidup dengan luapan rasa gembira. Ia mengumpulkan serangga-serangga kecil, memetik buah-buah beri yang tak pernah habis, bahkan terkadang membawa buah-buahan yang tak tersentuh di kebun belakang rumah ayahnya : pisang, pepaya, jambu batu. Ia membawa ke gua, tungku arang bekas yang sompal teronggok di dapur ayahnya, bekas pakai ibu waktu masih tinggal di rumah itu, kuali, sodet, minyak dan garam. Terkadang ia menumbuk serangga-serangga itu menjadi remahan kecil, mencampur dengan buah-buah beri berwarna merah dan ia menamainya Sambal Buah.

Lebih sering, ia menggoreng serangga-serangga itu dengan minyak dan garam. Ia turut makan bersama teman-temannya. Ia bahagia bersama mereka dan terbiasa tinggal berjam-jam di gua pengap dan lembab itu. Yang tidak diketahuinya adalah, ketika ia tertidur kelelahan, baik karena memasak atau pun bermain, makhluk-makhluk bersayap itu mengelilinginya, menaungi dengan sayap-sayap beledu mereka, dan bergantian mencicipi darahnya.

Ketika malam menjelang, Dewi akan pulang dengan terantuk-antuk batu maupun dahan, sebab remang bulan tak mampu menembus pepohonan di sekelilingnya. Di rumah ayahnya, ia akan mendapati beberapa luka kecil di tubuh dan mengganggap itu hasil kecerobohan saat berjalan.

Lewat beberapa minggu, Dewi mulai merasakan keanehan terjadi pada tubuhnya. Perutnya membuncit dengan nafsu makan yang semakin bertambah. Suatu malam, sang ayah melihat keganjilan ini.

“Saha nu ngareneuhan maneh!”(3) bentak ayahnya.

Dewi tergugu. Ia bahkan tidak tahu kalau dirinya hamil. Ayah mengambil sebatang kayu pengganjal pintu dan mulai memukuli punggungnya.

“Goblok! Kuduna maneh paeh we jiga indung maneh tah! Maneh teh budak eweuh kaguna!”(4)

Dewi terisak. Bukan karena rasa sakit dari deraan kayu, tetapi karena ayahnya menyebut ibu sudah mati. Padahal Dewi tahu, ibu hanya pergi dan harapnya suatu saat ia akan kembali.

Berkali-kali palang kayu itu mencumbu tubuhnya, sampai sakit yang ia dapatkan membuatnya kebas rasa dan Dewi terkapar.

Ketika bangun ia mendapati tubuhnya berada di bilik bambu Mak Odah, dukun tua di kampung itu. Tubuhnya terbaring telentang dan telanjang di atas kasur tipis tak berseprai. Di sampingnya sebuah baskom air hangat dengan banyak dedaunan di dalamnya. Beberapa daun dipaparkan di atas perutnya oleh Mak Odah yang setia duduk menemani. Seandainya tidak dalam keadaan kaku dan pilu, ia pasti sudah menanyakan apa saja khasiat daun-daun itu ke Mak Odah.

Ia menyukai Mak Odah, meskipun wanita tua itu ditakuti oleh anak-anak sekampung karena berwajah bengis. Bagi Dewi, Mak Odah seperti seorang nenek penyayang, mungkin wajah bengisnya itu hanya tipuan agar ia disegani orang-orang. Pernah suatu kali, ia tertangkap basah mengambil ubi di kebun belakang Mak Odah, alih-alih dihukum Dewi malah diajak masuk ke dalam rumah dan disuguhi teh rempah buatannya. Lihat saja sekarang, dengan satu tangan memapar dedaunan, tangan keriputnya yang lain membelai kening Dewi dengan handuk hangat.

“Geus hudang neng? yeuh nginum heula.” (5)Mak Odah menyodorkan segelas air putih.

Dewi mencoba bangkit tapi punggungnya tertahan sakit. Akhirnya ia rebah lagi.

“Eta jabang bayi na geus opat bulanan. Sakedeung deui ku ema erek dikaluarkeun, Bapa na neng embungeun ka ieu orok. Budak nu mawa apes cenah,”(6) Mak Odah berkata lirih.

Dewi kaget dan terisak.

“Alim Mak..,”(7)pintanya.

Mak Odah menatapnya kasihan. Ia menggeleng-gelengkan kepala dan mulai menekan-nekan perut Dewi.

Dewi berontak, menahan sakit dan marah tapi tubuhnya lunglai tak kuasa. Sekali lagi ia terkulai. Saat sadar, didapatinya satu baskom lagi di samping baskom air rempah tadi. Mak Odah sedang pergi. Ia menengok ke baskom yang baru dan melihat sebentuk daging dengan kain putih yang bernoda darah. Dilihatnya lebih jelas lagi dan ia meraung. Dipakainya kain pembungkus tubuh dengan asal dan didekapnya bayi itu.

Dewi menangis dan lari keluar dari gubuk bambu. Terseok ia pergi ke bukit batu yang dipercayai sebagai rumahnya, masuk ke gua persemayaman-tempat yang ia yakini aman. Teman-temannya bersuara ribut saat ia masuk dengan membawa bayi itu. Mereka mengerumuni Dewi dan berputar-putar di atasnya. Dewi merasa sangat letih dan membiarkan tubuhnya tertidur. Saat terbangun, subuh sudah bersauh.

“Pergilah kau. Pada masanya nanti kau akan melihat bayimu lagi,” kata si mata abu-abu. “Pergilah jauh.”

Ia menahan tangis. Kalimat itu menyihirnya berjalan ke luar gua. Menatap bintang-bintang sisa di angkasa yang gagal menguasai malam.

Dewi menatap bebatuan di atasnya. Sebagian menjorok ke samping, tajam dan basau. Sebagian lagi menghadap ke atas, besar dan bengah. Sebentar lagi ia akan sampai di batu yang paling atas, paling tinggi dan menghadap tebing curam.

Ia merentangkan tangannya ke samping merasakan hela angin yang membisiki namanya. Tubuhnya melayang turun, mendekati rimbun pepohonan dan cadas batu yang disebut oleh seorang arkeolog sebagai kerang-kerang laut purba.

*

Dewi tersentak. Peluh membasuh tubuhnya. Ia merasakan sakit di punggung dan pinggang karena tertidur di sofa keras ruang tamu kontrakan. Menunggu Awan yang tak juga pulang. Rupanya hari sudah gelap dan ia lupa menyalakan lampu. Hanya secarik sorot lampu jalanan yang menerobos masuk ke ruang tamu. Suara hujan yang menimpa atap seng membuatnya menggigil. Merasa diperhatikan, ia menoleh ke arah sudut ruang.

“Mas Awan?” panggilnya.

Awan kuyup oleh hujan. Ditimpali remang, matanya menyorot tajam ke arah Dewi. Menembus pandang seperti kelereng bening berbilah tikam. Tak pernah disadarinya selama ini sorot mata itu berwarna abu-abu.

***

~AE

1 : Banyak hantu

2: Tidak aman

3: Siapa yang menghamilimu?

4: Bodoh! Seharusnya kau mati saja seperti ibumu! Dasar anak tak berguna!

5: Sudah bangun? Mari minum dulu

6: Bayimu sudah berumur empat bulan. Sebentar lagi kukeluarkan. Ayahmu tak menginginkannya. Katanya bawa sial.

7: Jangan, Mak.

Catatan : Cerita fiksi ini terinspirasi oleh tempat bernama “Stone Garden” dan “Gua Pawon” di Padalarang. Cerita ini diikutsertakan sebagai bagian dari novel “Penulis Kedai” yang ditulis oleh para alumni Kelas Akting Salihara 2015.

IMG_2485

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s