Seni Mengarang 5

Pemateri Workshop Cerpen Kompas kali ini adalah Linda Christanty dan Seno Gumira Ajidarma. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dirangkum oleh saya berdasarkan materi yang dibawakan oleh Linda Christanty (materi yang dibawakan oleh Seno Gumira Ajidarma akan ditulis terpisah).

Linda mengawali cerpen Kompasnya 26 tahun yang lalu, sebelumnya ia terobsesi untuk menulis cerpen pada majalah Anita Cemerlang dan ditolak.

Ia menanyakan kepada para peserta mengenai inspirasi dalam menulis cerita dan banyak jawaban untuk itu. Ada yang berangkat dari obrolan teman, kegelisahan pribadi, budaya tempat tinggalnya, maupun makanan yang disukainya.

Teknik Menulis

Menurutnya, penulis fiksi harus mampu meyakini pembaca atas kebohongan yang ditulisnya, sehingga pembaca meyakini cerita yang dibaca itu sebagai kisah nyata.

Contoh tulisan yang baik adalah cerita-cerita Alkitab (jika memang dituliskan oleh manusia). Di Alkitab ada kisah mengenai Nabi Musa yang memiliki tanduk cahaya, Nabi Yusuf yang tinggal di perut ikan dan pembaca meyakininya.

Tulislah cerita yang membuat pembaca seperti menemukan dirinya sendiri, juga berwarna.

Tulislah cerita yang kita bayangkan, sesuatu yang tidak ada tetapi pembaca meyakininya ada.

Itulah fiksi dan itulah sastra.

Ada beberapa hal dasar yang diyakininya sebagai dasar dari teknik menulis fiksi, yaitu :

1. Karakter / Penokohan

Penulis harus mampu menghidupkan tokoh-tokoh ciptaannya.

Contohnya adalah tulisan mengenai sastra Nazi oleh Roberto Bolano. Bolano menciptakan tokoh-tokoh rekaannya dengan detail seperti tahun kelahiran, tahun kematian, karya-karya sastra si tokoh dan hubungannya dengan peristiwa-peristiwa dunia sehingga pembaca akan menyangka bahwa tokoh-tokoh tersebut memang benar-benar pernah hidup dan ada.

Untuk itu diperlukan detail penokohan. Detail tidak digambarkan semata-mata secara fisik (baju yang dipakai, merk sepatu dan kaca mata yang digunakan) tapi juga harus ada keterkaitan dengan karakternya sehingga pembaca dapat tahu dari mana kelas sosial si tokoh berasal dan juga mencerminkan konflik batinnya. Detail tidak boleh mubazir, harus bertujuan.

Dalam teknik mengarang dulu, tokoh bisa dibagi menjadi protagonis dan antagonis. Tetapi kini, tokoh tidak lagi hitam putih. Ciptakan tokoh yang tidak sempurna. Misalnya, dari seorang tokoh yang baik, ungkap sedikit sisi gelapnya.

Akan lebih baik jika tokoh kita mempunyai role model dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kalaupun tidak, adakanlah riset.

Contoh lainnya : Shakespeare dikenal mampu untuk “menciptakan” manusia, membuat tokoh-tokoh baru dalam ceritanya.

2. Konflik

Konflik bukan saja berasal dari pergumulan si tokoh dengan tokoh lain (misal : konflik dengan orang tua), atau konflik eksternal (misal : konflik negara) tetapi juga konflik batin (psikologis si tokoh).

3. Kompleksitas / Perumitan

Yang dimaksud dengan kompleksitas adalah bukan cara menulis yang rumit, tetapi ceritanya yang rumit. Contohnya: Tokoh A memutuskan untuk kuliah lagi tetapi tidak direstui oleh orang tuanya, selanjutnya ia bermasalah dengan dosennya dan berakibat ia harus berhenti kuliah. Cukup rumit, bukan?

4. Krisis

Yaitu situasi genting yang menyebabkan si tokoh harus mengambil keputusan (apa yang harus dipilih atau tidak).

5. Penutup

Yaitu perubahan yang dialami oleh si tokoh atau situasi akhir yang dialaminya. Apakah klimaks atau anti klimaks?

Linda menyukai serial detektif Dexter. Cerita detektif dapat memberikan ide untuk ending yang tidak terduga. Tetapi ending yang tidak terduga harus juga memunculkan clue di beberapa bagian cerita, sehingga pembaca dapat mengaitkan ending tersebut dengan clue-clue yang tersebar di badan cerita.

Tips dalam menulis :

– Membaca banyak buku, tidak hanya dari satu penulis tetapi dari banyak sumber, juga tidak harus bacaan sastra saja.

– Ketika menulis, biarkan imajinasi berkembang bebas, tulis semuanya, jangan berperan sebagai penulis dan editor secara bersamaan.

– Setelah selesai menulis, baru diedit.

Latihan :

Tulislah satu paragraf deskriptif tentang suasana atau karakter!

Pembahasan cerpen

Pada bagian ini, Linda Christanty dan Seno Gumira Ajidarma membahas beberapa cerpen yang masuk sebagai persyaratan Workshop Cerpen Kompas. Berikut ini adalah tanggapan dari Linda terhadap beberapa cerpen (tanggapan Seno Gumira Ajidarma akan ditulis terpisah) :

Judul

Judul sebuah cerpen bisa menggambarkan isi, bisa juga tidak. Sebaiknya dihindari judul yang persis menjelaskan isi cerita.

Contoh yang sebaiknya dihindari : “Perempuan yang Mengawini Ombak” benar-benar menceritakan perempuan yang kawin dengan ombak (secara harafiah).

Judul sebuah cerpen juga tidak boleh membingungkan pembaca.

Contoh yang sebaiknya dihindari : “Mereka Tidak Mabuk Ia” (Ia siapa? Benda atau orang?)

Isi cerita

Jika ingin menciptakan adegan dramatis, juga harus logis. Misalnya : Ranjang yang berderik-derik (mengapa bisa berderik-derik?)

Pada sebuah karya sastra ada lapisan makna yang tersirat. Sastra yang baik, menyampaikan pesan dengan implisit. Meskipun pada tulisan Umar Kayam misalnya, ada hal-hal yang secara eksplisit disampaikan, tetapi melalui dialog para tokohnya.

Kadangkala penulis terperangkap pada pesan moral yang ingin disampaikan sehingga tampak seperti ceramah. Contoh yang sebaiknya dihindari : cerita yang menunjukan kejijikan pada praktek homoseksual.

Jika ketika menulis cerpen mengalami kebuntuan, tinggalkan sebentar, bacalah buku, menonton film/teater agar ide cerita dapat ditangkap lagi.

Kecenderungan penulis-penulis muda di Indonesia masa kini adalah menceritakan cerita horor/tahayul. Fenomena ini menarik bagi Linda. Ia pun pernah menulis cerita horor mengenai Hantu Padang Tiji di Aceh yang sebenarnya adalah kritiknya terhadap mitos penduduk setempat. Dalam hal ini. penulis harus bisa menceritakan sebuah cerita dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya menulis ulang mitos penduduk setempat.

Intro

Dalam menulis, ceritakan saja sebuah cerita dengan adegan. Jangan menjelas-jelaskan isi cerita kepada pembaca. Contohnya : “Karma Suci” terlalu menjelaskan apa itu karma di paragraf awal sehingga tampak seperti ceramah.

Kebanyakan penulis memulai intro secara konvensional : deskripsi suasana. Padahal bisa juga suatu cerita dibuka dengan dialog.

Hubungan antar paragraf harus konsisten.

Contoh yang tidak konsisten :

Pada paragraf pertama ditulis bahwa “rumah seolah mati”. Paragraf kedua dideskripsikan rumah tersebut ada meja kursi dan seorang tua yang tinggal di dalamnya. Sebaiknya langsung saja pada kalimat : Tiga hari yang lalu, rumah itu masih ramai.

Hal-hal yang klise juga terjadi dalam kalimat (hindari)

Contohnya dalam kalimat : Bunga itu sebuah lambang. Lambang a, b, c, d. Sebaiknya langsung saja pada kalimat : Ia mengenal nama-nama bunga itu tanpa harus melihatnya.

Irama

Penulis harus mengenal irama tulisannya. Jika terlalu lamban, tambahkan dialog (karena narasi melulu akan membuat lamban).

Sudut pandang tokoh

Sudut pandang tokoh bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan. Jika ingin sudut pandang yang luas, bisa menggunakan God eye’s view (orang ketiga). Jika ingin lebih personal, bisa menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi terbatas. Contohnya : Angin Musim oleh Mahbub Junaidi menggunakan sudut pandang seekor kucing.

Proses Kreatif

“Seekor Anjing Mati di Bala Murghab” mendapat komentar dari seorang tentara Afganistan bahwa anjing tidak dibunuh tanpa alasan. Tentara akan membunuh seekor anjing, jika anjing tersebut kedapatan mengganggu anjing-anjing para tentara.

Proses kreatif pembuatan cerpennya adalah ;

Linda mendapat sms dari seorang teman yang melihat seorang anjing ditembak di Afganistan dan seorang anak kecil menangisinya. Si teman merasa sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Linda mengembangkannya menjadi :

Bagaimana jika si anak ingin mengambil bangkai anjing tersebut tapi tentara melempar bangkai itu ke seberang jalan dan mengenai jubah seorang pria tua? Karena darah anjing dianggap najis oleh pria itu.

Proses kreatif adalah refleksi dari pengetahuan kita. Linda suka mencatat kalimat-kalimat di kertas yang diselipkan di dompet, mengumpulkan topik-topik yang disukai (fasis dan neofasisme) karena percaya suatu saat akan berguna. Selain itu penulis harus membuat deadline untuk diri sendiri (kapan tulisan akan selesai, dst).

~AE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s