Suatu Hari Tanpamu

Aku menunggumu. Di sini, di restoran favoritmu. Aku sengaja memesan saung terujung yang ada di restoran ini, seperti biasa jika kita memutuskan untuk makan malam di sini. Tidak ada yang dapat menggangguku di sini. Mengganggu kita. Meski kita tertawa keras-keras atau menangis terisak-isak.

Senja mulai merangkak di ujung langit. Semburat kemerahannya memantulkan cahaya pada bulir-bulir padi mentah di pematang belakang restoran. Ia menjadi bagian dalam keseluruhan dekorasi alam di sini. Mungkin inilah yang membuat restoran ini ramai dikunjungi orang. Untuk memanjakan kerinduan manusia urban seperti diriku, akan kesatuan asalinya pada alam.

Aku selalu terpesona pada senja. Aku meninggalkan sejenak pulpen dan buku catatan kecilku. Menikmati sejenak momen matahari terbenam, meski di sini kita tak bisa melihat matahari yang turun perlahan ke garis langit. Hanya semburatnya yang perlahan menggantikan warna langit, dari jingga menjadi kemerahan, lalu menjadi ungu kelam, menandakan malam yang siap datang.

Biasanya kau akan sibuk memotret dengan kamera handponmu, meski tak satu pun gambar hasilnya yang akan kau posting di media sosial karena kau pikir tidak cukup layak untuk dipamerkan. Tapi kali ini kau tak ada. Dimana kau, Sayang? Ungu sudah berubah menjadi hitam, dan suluh-suluh sepanjang jalan menuju pematang di restoran ini sudah dinyalakan, tapi kau belum juga datang. Tidak biasanya kau terlambat datang pada janji pertemuan kita. Aku mencoba meneleponmu kembali. Entah sudah yang keberapa ratus kali? Tetap tak terhubung.

Om, Saraswati sweta warna ya namah.
Om, Saraswati nila warna ya namah.
Om, Saraswati pita warna ya namah.
Om, Saraswati rakta warna ya namah.
Om, Saraswati wisma warna ya namah.

Selarik mantra kudengar terhembus angin yang berbisik. Siapakah yang melantun puja puji? Aku menoleh ke kanan dan kiri, tapi tak terlihat seseorang yang sedang bersembahyang. Mungkin kerinduanku padamu yang membuat angin berbisik melalui jenjang tangkai-tangkai padi di pematang. Seperti aku mendengar suaramu pada hari itu, melantun puja-puji yang sama sembari memercikkan air dari bunga kemboja merah jambu ke arah buku-buku yang kau sebut kitab-kitab pengetahuan.

Saraswati. Aku merindukanmu. Hari itu merupakan hari paling bahagia dalam hidupku. Aku menemukanmu. Atau kau yang menemukanku? Kita berjumpa di kios buku keluargamu-yang berada di ujung jalan ini-saat aku sudah tidak tahu harus ke mana lagi, karena seluruh Ubud ini sudah kususuri. Aku memperpanjang hari cutiku yang tadinya hanya untuk memenuhi undangan festival sastra bergengsi di negeri ini, menjadi liburan yang menyelamatkanku dari kebisingan kota besar. Dan sebenarnya juga, mempertemukanku dengan takdir kebahagiaanku. Yaitu dirimu.

Kau yang tergila-gila pada pengetahuan. Kau yang menggilai buku-buku. Kau yang berkata : “Semahir-mahirnya perempuan memasak di dapur, ia pun harus punya kepandaian dalam berpikir, agar dapat memajukan keluarga dan bangsanya.” Herannya, aku tidak melihat (atau aku tidak memperhatikanmu?) yang selalu datang di setiap pertemuan festival sastra itu. Kau membaca semua buku-bukuku dan mengkritik beberapa karyaku. Aku hanya menjawab dengan kutipan Roland Barthes. Pengarang sudah mati, kataku tersenyum.

Hari itu kita berbincang lama sekali, seperti sepasang sahabat yang sudah lama tak bertemu. Mulai dari sastra dalam negeri sampai luar negeri. Mulai dari Pramoedya sampai Tagore. Ketika perut yang lapar memaksa kita untuk mencari pengganjal, kau memutuskan mengajakku untuk pergi ke restoran ini. Kita bisa makan sambil berbincang, katamu. Dan menu makanan di sini pun nikmat. Nikmat yang menyimpan rindu di dalam ingatan. Membuatmu selalu ingin kembali. Membekukan momen itu menjadi sesuatu yang tak mampu kau lupakan. Paling tidak itu yang terjadi padaku. Dan aku berhasil membuatmu menyetujui janji kita. Bertemu di setiap senja menjelang malam perayaan Saraswati.

Seperti saat ini. Tapi kau belum juga datang. Aku melirik penanda waktu di handponku. Pukul 19.00 tepat dan seorang pelayan berkebaya putih dengan cepol dan selipan bunga kemboja putih di telinga kirinya menghampiriku. Sosok rampingnya mengingatkanku pada dirimu. Selintas aku menghidu wangi rempah yang sering kau semprotkan pada nadi dan belakang telingamu. Rupanya aku benar-benar merindukanmu. Untung saja delusi belum mampu melumpuhkan cerna ingatanku sehingga tidak benar-benar menyangka staf itu adalah dirimu. Ia menanyakan kepadaku apakah sudah siap memesan menu makanan atau masih mau menunggu lagi. Aku malah mengoceh padanya, mengatakan menu kesukaanmu : bebek muda yang digoreng renyah (sampai jika kau menggigit tulang muda itu aku bisa mendengar “kriuk” dari dalam mulutmu) yang disajikan dengan lawar dan sambal matah segar. Irisan bawang dan cabai akan membuat matamu mengerjap-ngerjap basah dan bibirmu mendesah pedas. Aku selalu tertawa melihat mimik wajahmu yang seperti itu. Oh tidak, aku terlalu panjang bercerita kepada staf pelayan itu dan ia terlalu baik hati untuk meladeni ocehanku tentang dirimu. Karena rasa tak enak hati menyebabkan ia menunggu terlalu lama, aku memesan saja dessert untuk diriku sendiri. Menu utama akan kupesan nanti ketika kekasihku datang, kataku padanya.

Seperti memaklumi, ia mencatat pesananku. Black Russian Pie. Salah satu kue favoritmu juga. Pie dasar beraroma mentega yang renyah berpadu dengan lembut marshmallow yang menjadikan bagian tengah kue sedikit kenyal. Lapisan coklat di atasnya bercampur vodka dan kahlua, menciptakan rasa manis pahit di lidah, lalu hangat menjalar di kerongkongan, setelah kau memakannya.

Manis, pahit dan hangat. Bukankah itu kebahagiaan? Bukankah itu kita? Di setiap pertemuan dan di setiap kebersamaan kita, selalu ada rasa itu. Manis oleh cumbuan dan tawa, kadangkala juga pahit oleh debat dan pertengkaran. Tapi bukankah itu semua yang membawa kebahagiaan? Itu semua yang membawa kehangatan. Karena pertanda bahwa kita selalu melalui momen itu bersama. Kebersamaan. Kehadiran. Kebahagiaan. Tapi kau tidak bersamaku sekarang. Kau tidak hadir di sini. Di manakah kau? Setahun lalu aku memutuskan untuk pindah ke pulau ini, agar dapat lebih dekat denganmu. Aku memikirkan masa depan kita. Tetapi enam bulan sesudahnya kau mendapatkan tawaran mengajar di universitas tersohor di ibu kota. Aku tidak ingin menghalangimu. Bukankah kau mengabdi pada pengetahuan? Itu cita-citamu sejak dulu. Jarak tidak akan pernah memisahkan rasa, katamu. Aku percaya itu.

Staf pelayan itu sudah lama pergi. Suluh di pematang pun diam-diam meredup. Mungkin minyaknya perlu ditambahi? Apakah harapanku juga ikut meredup bersama suluh itu? Karena kehadiranmulah yang menjadi minyak dari suluhku. Aku melihat handponku lagi. Memelototi namamu yang tertera di daftar panggilan terimaku. Last call : two days ago. Itu saat kau memberitahu bahwa pesawatmu sudah siap lepas landas dan handponmu akan segera dimatikan. Sejak itu kau tidak dapat kuhubungi. Tapi aku tetap akan menunggumu pulang. Karena bersamamu, aku bahagia. Suara jangkrik di sekitar saung mulai mengisi rongga kekosongan. Nyanyian malam mulai terdengar melalui bisik-bisik angin yang berhembus. Aku tetap menunggu.

***

~AEImage

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! (dengan tulisan The Bay Bali yang di link ke website: www.thebaybali.com). 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s