Sapu Tangan yang Tertinggal

Salah satu syarat untuk mendapatkan tiket nonton Papermoon Puppet “Secangkir Kopi dari Plaja”, saya diharuskan menukar satu barang kenangan. Agak sulit bagi saya, karena saya salah seorang pengumpul kenangan (baik kenangan baik maupun kenangan buruk). Memori saya seperti mesin waktu yang mampu menghadirkan kembali adegan-adegan peristiwa dalam hidup saya. Setiap barang yang saya kumpulkan memaknai segala peristiwa itu. Ada beratus-ratus tiket bioskop, adukan kopi, atau sekedar tatakan gelas kertas. Setelah mencari-cari di beberapa kotak barang yang berlabel KENANGAN, saya menemukan sehelai sapu tangan ini, yang mungkin tertinggal (atau ditinggalkan) dan saya memutuskan untuk melepaskannya. Di bawah ini adalah cerita yang saya kumpulkan dan ditukar dengan sebuah tiket pertunjukan :

Jika diminta menyebutkan benda yang saya benci di dunia ini, salah satunya adalah sapu tangan. Pengalaman saya bersama sapu tangan identik dengan suatu ketidakbenaran dalam pribadi saya. Entah itu karena sakit (sewaktu kecil saya selalu disuruh membawa sapu tangan jika sedang pilek sehingga saya harus pintar membolak-balik semua sisi sapu tangan untuk mencari sisi yang tidak lengket ingus) atau karena sedang menangis sedih (beruntung sekarang sudah banyak tissue yang beredar di pasaran meski kadang isu lingkungan hidup sempat ragu menggunakan tissue). Intinya saya tidak menyukai benda bernama sapu tangan ini.

Cerita menjadi berbeda ketika saya berjumpa dengan lelaki bersapu tangan. Ia selalu membawa sapu tangan kemana-mana, salah satunya untuk mengelap keringat dan saya mulai terbiasa kembali berdekatan dengan benda ini. Saya jatuh cinta pada si lelaki bersapu tangan dan hampir percaya bahwa dialah belahan jiwa saya dan kelak kami akan hidup ‘happily ever after’.

Saya percaya tahayul. Menurut saya lebih baik berjaga-jaga daripada menentang suatu mitos. Mitos yang saya dengar dalam hubungan antar sepasang kekasih antara lain : tidak boleh memberikan kado sapu tangan (karena identik dengan tangisan) dan parfum (entah alasannya apa) karena akan menyebabkan putus. Karena itu, jika kekasih saya tidak sengaja meninggalkan sapu tangannya di kediaman saya, maka saya akan buru-buru menegur dan mengembalikan sapu tangan itu segera. Ia hanya menertawakan sikap paranoid saya.

Tetapi suatu ketika, paranoid saya mendapatkan kesempatannya. Saya mendapati lelaki saya selingkuh. Ia menangis dan memohon maaf saya. Saya pun ikut menangis bersamanya (entah karena kecewa atau karena tenggang rasa). Saat itulah ia meminjamkan sapu tangan biru ini, yang kemudian tertinggal (atau sengaja ditinggal?) bertahun-tahun lamanya. Mungkin sapu tangan ini mampu menghapus air mata saya saat itu, tapi tidak mampu menghapus rasa kecewa.

Setiap kali melihat sapu tangan ini, saya tahu ia memiliki kenangan eksklusif kami berdua : mengingatkan akan rasa sakit dikhianati, kerelaan memaafkan dan kesalahan-kesalahan yang datang sesudahnya. Dengan melepas sapu tangan ini, saya tidak berharap dapat memaksa lepas juga segala memori yang melekat padanya. Tetapi paling tidak dengan saya merelakannya pergi, saya memberikan kebebasan pada ingatan saya untuk move on dan membuat kenangan baru. Selamat tinggal.

~AE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s