Cerita dari Langit (Kisah dari Manado)

Mimpi itu datang lagi. Mimpi yang sama, dengan adegan yang selalu berulang. Jika kau sering menonton kembali sebuah film yang sudah pernah kautonton, maka kau akan hapal runutan adegan film tersebut. Seperti itulah mimpiku. Dimulai dengan suara ombak senja yang memiliki ritme tertentu : byuur… plash… byuur… plash, aku melihat ayah berdiri menghadap laut. Tentunya itu pantai di desa Te-ep, karena tidak ada lagi pantai yang pernah kukunjungi bersama dirinya dulu. Di pantai itu aku bermain pasir, sekedar menggambar orang-orangan dengan potongan tulang daun kelapa yang jatuh mengering  atau membangun istana pasir yang tidak simetris. Aku selalu berwujud anak kecil dalam mimpi-mimpi itu. Lalu ayah membalik badannya menghadapku. Sinar matahari sore menyembunyikan wajahnya dalam bayang-bayang. Perlahan ia mendekatiku. Langkahnya tenang dan selalu membuatku menahan keinginan untuk menghambur ke pelukannya. Pok… pok… pok… pok… Suara selopnya yang mungkin setengah basah menyimpan air dan udara di bagian tumit ketika ia melangkah. Setelah sampai di hadapanku, ia berjongkok sampai wajah kami berhadap-hadapan. Lalu aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Wajah yang bukan wajah ayahku, dengan bingkai rambut panjang dan awut-awutan. Matanya meredam kemarahan, merah membara. Hidung besarnya kembang kempis mengendus-endusku seperti hidung anjing yang basah membaui tulang yang terkubur. Bibirnya tebal dengan seringai yang semakin melebar memperlihatkan gigi-gigi kuningnya yang berliur darah.

Aku terkesiap. Bangun setengah tersedak, menelan liurku sendiri. Mengerjap-ngerjapkan mata karena silau cahaya neon, aku melihat jam kecil di atas nakas samping ranjang. 23.45. Buku Abdullah Harahap yang setengah terbuka terjatuh di bawah nakas. Rupanya aku tertidur saat membacanya tadi. Aku memungutnya dan memutuskan untuk kembali membaca. Percuma saja melanjutkan tidur, mimpi itu sudah mengusir jauh kantukku. Mimpi seram yang akhir-akhir ini selalu membayang. Menurut buku yang pernah kubaca, seorang ahli bernama Jung mengatakan bahwa mimpi adalah kumpulan pengalaman personal yang tersimpan dalam ingatan. Ayah dan pantai adalah kenangan yang paling kurindukan. Dulu, jika aku menangis tak henti (yang biasanya karena dimarahi oleh ibu), ayah selalu membujuk akan membawaku bermain ke pantai di hari Minggu sore. Lalu biasanya aku akan menghapus air mata dan dengan terpaksa menuruti kemauan Ibu. Bayangan akan hangat pasir putih yang menelusup di sela-sela jari dan syahdu suara ombak menenangkanku. Byuur… plash… byurr… plash…. Ombak. Pok…pok…pok…pok… Ayah.

Aku membolak-balik halaman novel Abdullah Harahap tanpa benar-benar konsen membacanya. Pikiranku masih melayang-layang ke wajah seram yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Akhir mimpiku selalu seperti itu. Wajah yang bukan milik ayah. Aku pasti terbangun dengan rasa kejut meski tidak takut. Aku masih memikir-mikirkannya sampai mataku tertumbuk pada halaman ke-41 :

Cekaman kesunyian membuat desa tampak lengang. Diam membeku. Apalagi cuaca malam teramat dingin pula. Menggigit.

Oh, bagus. Sekarang situasi yang sama pula terjadi denganku. Bagaimana aku tidak menyadarinya sedari tadi? Malam yang terlalu menggerogoti badan. Mendadak hawa dingin meraba tengkukku. Angin dari luar jendela menerobos masuk. Aku merasa dingin sekaligus lapar. Mungkin karena aku melewati makan malam tadi. Jam berapa terakhir aku makan? Ah ya, jam dua siang. Itu juga karena Nancy berbaik hati mengantarkan tinutuan buatannya untuk ibu dan aku. Sepupuku itu memang pandai memasak. Beruntunglah Marlon mendapatkannya. Masih perih hatiku jika membayangkannya meski sudah setahun lebih berlalu. Kekasih dan sepupuku. Perjodohan mereka. Orang tua Marlon yang tidak merestui hubunganku dan anaknya dengan alasan yang mengada-ada. Ayah Marlon yang pendeta bilang bahwa ibuku adalah seorang dukun. Ia meminta ibu dan aku untuk dibaptis agar dapat masuk ke dalam keluarganya. Lucu sekali bagaimana seseorang merasa bahwa dirinya lebih benar daripada orang lain, menyebarkan agama dengan cara memaksa. Tentu saja ibuku tidak mau. Dan bagaimana juga seorang perempuan tua renta yang bangun dari tempat tidurnya saja sulit menjadi seorang dukun tenung seperti tuduhannya?

Begitulah akhirnya kisah cintaku kandas. Aku tak tega memaksa ibuku untuk menuruti kemauan pak pendeta hanya demi kepentingan pribadi. Meski aku membencinya, aku rasa setiap orang memiliki hak masing-masing untuk memilih keyakinannya. Bahkan untuk ibu sekali pun yang mengabaikan aku hampir seumur hidupku. Apalagi semenjak ayah meninggalkan kami saat aku masih berumur tujuh tahun. Seakan aku yang bersalah membuat ayah pergi meninggalkannya, ibu tidak pernah menegurku lagi kalau tidak perlu. Sementara ayahku, aku tidak tahu persis apa yang membuatnya memutuskan untuk meninggalkan kami. Menghilang begitu saja. Beberapa orang bilang ayah mati saat berburu babi hutan. Tapi mengapa jasadnya tak pernah ditemukan? Beberapa lagi bilang ia diam-diam punya istri muda dan sudah kawin lagi di kota Manado. Aku tak peduli dengan omongan orang-orang. Apapun yang mereka katakan, ayah tetaplah ayah yang sama di mataku, ayah yang penuh kasih sayang, mengajakku bermain di pantai di akhir minggu. Aku sudah cukup puas bisa bertemu dengannya di dalam mimpi-mimpiku.

Pok…pok…pok…pok… Suara itu begitu halus terdengar namun mampu memutuskan lamunanku. Kupikir mungkin itu suara yang selalu muncul jika aku melamunkan ayah. Atau mungkin itu suara angin kecil yang memukul-mukul daun jendela kamarku yang terbuat dari kayu. Aku beranjak mendekati jendela. Hawa dingin sekali lagi menyergapku. Beginilah jika kau tinggal di daerah lembah seperti Tewasen. Tempat angin dari segala penjuru berkumpul dan bercengkerama. Mereka berbisik-bisik, saling menggesek dedaunan pisang di kebun sebelah. Aku menghirup udara malam. Mendongak ke langit malam melalui jendela kamar, aku mendapati bulan merah yang menatapku dalam diam. Purnama. Teringat cerita Nancy tadi siang. Tentang hantu-hantu yang keluar pada bulan purnama. Kata Nancy, orang-orang akan berjaga malam ini. Sebab dua hari kemarin saat bulan bulat, ada tiga bayi yang diambil hantu. Aku menertawakannya. Aku bilang, buat apa hantu mengambil bayi? Dan seperti apakah hantu pengambil bayi itu? Bukankah itu salah orang tua bayi itu, yang tidak mampu menjaganya sehingga dapat dicuri? Nancy terisak mendengar pertanyaanku yang sinis. Aku langsung merasa bersalah. Bagaimanapun Nancy sudah sangat baik kepada aku dan ibu, dan ia sudah seperti adikku sendiri. Meski adik tentu saja tidak akan mengawini kekasih kakaknya, pikirku miris (walaupun ia telah meminta maaf kepadaku berkali-kali karena perjodohan yang bukan kuasanya). Aku tahu Nancy sangat ketakutan sebab ia baru saja melahirkan. Bayinya masih merah. Ia dan Marlon menamainya Nona, seperti namaku. Untuk menghormatiku, katanya. Tapi aku tidak perlu penghormatan atas kehancuran hatiku. Rasa iri menyelinap diam-diam. Seharusnya aku yang sekarang sedang menimang-nimang Nona kecil dalam dekapan, dengan Marlon yang memeluk pinggangku dari belakang. Nona memang cantik. Ia mewarisi hidung mancung ayahnya dan mata lentik ibunya. Ia terlihat cantik meski sedang menangis.

“Kita takut sekali. Hantu itu mau makang kita pe anak.“

Terngiang ketakutan Nancy tadi siang. Aku yang merasa bersalah karena memberi tanggapan yang sinis terhadap hilangnya tiga bayi itu, akhirnya berusaha mendengarkan kelanjutan cerita Nancy. Ia bilang ada warga yang sempat memergoki hantu itu. Penampakannya seram. Hanya kepala yang melayang-layang dengan usus yang menggelantung di bawahnya. Dengan rambut awut-awutan, mata beringas dan seringai tajam, tampaknya hantu ini menculik bayi dengan cara menggigitnya lalu terbang. Persis seperti gagak pemakan bangkai. Bukannya meminta bantuan, warga yang melihat ini malah jatuh pingsan, mungkin ketakutan karena melihatnya atau mungkin juga karena mual melihat jeroan tubuh manusia yang menggelantung seperti lampu pohon Natal (tanpa warna kuning-hijau-biru).

“Kamu gak usah takut. Hantu itu gak ada.”

Aku berusaha menenangkan Nancy. Kukatakan bahwa itu mungkin hanya muslihat politik para calon kepala desa menjelang pemilihan nanti untuk menciptakan teror dan pengalihan pada warganya. Atau mungkin saja itu modus penculikan bayi oleh manusia-manusia yang bermotif uang dan menciptakan rekayasa hantu agar dapat bersembunyi dari dugaan aparat keamanan.

Mendengar itu, Nancy agak tenang sedikit namun ia pulang masih dengan ketakutan yang sama. Ia masih berkeras bahwa purnama ikut andil sebagian besar dari teror ini. Aku terkekeh. Bagaimana bisa bulan secantik ini mampu mengancam sebagian warga Tewasen? Masih sambil menghirup udara malam yang dingin dan tipis, aku memejamkan mata. Mendengarkan gemerisik daun pisang, suara angin yang mendayu dan sesekali kelebat sayap kelelawar. Damai dan tenang. Hening dan dingin.

Pok…pok…pok…pok…

Ayah, aku ingin terbang.

Pigi jo, Nak. Bebaskan ngana pe jiwa.

Pok…pok…pok…pok…

Ayah, aku bebas seperti burung.

Pok…pok…pok…pok…

Aku membuka mata. Pemandangan di bawah sangat menakjubkan. Bukit dan lembah yang hitam abu-abu. Sungai yang berwarna keperak-perakan di bawah sinar bulan.Titik-titik lampu rumah penduduk seperti kunang-kunang pemanis malam. Aku pasrah pada euphoria yang melenakan.

Ah, rumah siapa itu yang memiliki lampu paling benderang? Aku merunduk ke bawah dan semakin merendah. Kuingat itu rumah orang tua Marlon. Terakhir aku ke sana setahun yang lalu. Cahaya neon mengitari seputaran rumah bertembok putih itu. Aku mendarat di sebuah jendela kaca besar yang terbuka. Terdengar gonggongan anjing peliharaan mereka mengiringi aku yang menerobos masuk. Di sebuah ranjang kecil terbaring bayi cantik berselimut katun. Ia menangis keras saat kusentuh pipinya yang merah jambu dengan lidahku. Nona kecil, kau milikku. Suara yang keluar dari mulutku terserak tanpa kata. Tertutup oleh gonggongan anjing dan jeritan Nancy yang menghambur masuk. Aku menyeringai kepadanya. Sebagian diriku merasa senang. Sebagian lagi merasa menang.

***
Legenda Asal :
Pok-pok bukanlah hantu. Seperti leak di Bali dan palasik di Minang, pok-pok adalah manusia yang memiliki ilmu hitam dan mampu memisahkan kepala dari tubuhnya. Kemudian ia melayang-layang mencari mangsa yang kebanyakan adalah bayi-bayi yang baru lahir atau bayi-bayi yang masih dalam kandungan. Disebut pok-pok karena kepala melayang dengan usus terburai ini berbunyi pok…pok…pok… Biasa ia hinggap di ambangan atap rumah atau di atas pohon pisang untuk mengintai mangsanya. Para tonaas (tetua kampung) yang dipercaya mampu mengusirnya. Bisa dengan membakar badan yang sedang ditinggalkannya atau menangkap kepalanya.

~AE

pok pok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s